Sunday, October 16, 2011

Tips buat belanja di e-bay

Originally Posted by acman
eBay buying tips

* Stay Calm

It's all too easy to get carried away in any auction, desperately trying to win, bidding more than an item is worth, being afraid to lose.

Remember that unless the item is very special there's always another one.

Indo > tetep sabar.. klo barangnya ga spesial2 banget, sante aja.. bakal ada lagi yg sama kok..

* Decide how much to pay

Make sure you know the current new price for the item, it's amazing how often items are auctioned for more than they can be bought from the shops.

If for instance you're interested in a particular make and model of notebook PC, Search for matching items, and watch what they are going for. Generally you will find that some go cheaply, some get a high price and the rest fall somewhere in between. With this as a guide decide what you are prepared to pay and don't bid more!. It's very easy to get too enthusiastic as an auction closes, and keep increasing your bid, remember there's always another one. Check the shipping cost, Check that the seller will ship to your location, Check that the seller will accept the payment type you prefer.

Indo > inget2 harga pasaran utk baju itu brp.. jgn sampe kelebihan beli..

* If it seems too good to be true then it probably is!

For high value items it makes sense to take extra care. If it seems very cheap you might be tempted not to take as much care as you otherwise would. Beware of sellers who only accept payment methods like BidPay, it's like instant money, once you've sent it it's gone! Always check seller feedback, do they accept escrow?

Make sure you understand the auction terms, sometimes it can initially appear that the auction is for a particular item, but it may just be for information about how to buy the item cheaply.

Indo > baca keterangan/description item nya.. jgn lgsg ngebid asal karena harganya murah.. sapa tau ongkirnya mahal.. atau bajunya bolong sebelah.. atau tidak terima paypal.. dll

* Check the Shipping Cost

For low value items the shipping cost can be a significant part of the price, even exceeding the price. For instance comonly available items like CDs, DVDs, videos and books can go very cheaply but different sellers may have considerably different shipping costs.

If the seller doesn't specify the shipping cost to your location then ask before bidding, if you don't, and you win the item, then the seller has you over a barrel and can quote any amount he likes!

Be particularly careful of apparently very cheap items from locations like China, Some sellers list the items with a very low starting price but a very high shipping cost. SO you might win an auction at 1 cent but pay 10 dollars shipping, often this is OK, and the total is reasonable as long as you are aware of it before you bid.

Indo > Cek shipping ke tempat lo brp duit.. jgn sampe bid dulu baru nanya.. ntar klo dicharge 20 pounds buat ongkir kan berabe

* Check that the seller will ship to your location

I have occasionally been searching for an item and in the heat of the moment bid on something where the seller has indicated he won't ship to my location. It's easily done if you suddenly notice something you want going soon.

Indo > sebelon nanya ongkir.. tanya dulu.. mau ga kirim ke tempat lo..

* Check the seller's payment preferences

Make sure that you can pay for the item if you win it! Personally I'm reluctant to bid on items that don't accept PayPal. I can't be bothered to write out a cheque for a small amount, find an envelope, find a stamp, find a post box, uugh! Life's too short. PayPal is quick secure and easy, all done without leaving your armchair.

Indo > cek dulu, seller bisa terima paypal ga ? klo ga terima.. tanya.. klo dibilang ga.. ya udah bukan jodohnya..

* Bid uneven amounts

Always bid a little over an even amount, say 5.25 rather than 5.00, many buyers will bid in even amounts, and it's annoying to loose something for a few pence ( of course you can go-on forever why not bid 6.25 or 7.25....)

Indo > Bid di angka2 yg aneh.. misal 5.25, jgn 5.00 toh beda2 dikit gpp.. drpada nyesel ntar kalah hanya gara2 0.05 pounds

* Sniping

Sniping refers to the practice of bidding at the last possible moment before the end of the auction. You can do this with a stopwatch and a quick finger, or you can use an automated bidding tool like BidSlayer. Some people think that there is something 'dishonorable' about sniping and there are some heated discussions around.

Generally speaking if you snipe you are more likely to be sucessful at winning at a good price. If you study the bidding history of auctions with many bids you will see that almost always there are multiple bids from the same users. Someone makes a bid, someone else sees the bid and makes a counter bid but is immediately outbid because the proxy system bids from the original high bidder, so he bids again, gets outbid, bids again... This is very common and generally pushes prices up, perhaps good for sellers but not for buyers!

Indo > Sniper aka dexter.. eh maksudnya klo mo tanya2 soal snipping.. tanya dexter aja dia ahlinya..

* Check the competition

If you bid regularly on particular sorts of item, you will probably notice other users who regularly bid on items that you are bidding on. On most eBay sites you can do an Advanced Search to search for items that a particular user has bid-on, if he often bids on items you are interested in then it's likely that he may have bid on other items that you might be interested in.

Indo > cek persaingan.. kadang2 ada satu user yg hobinya bid2in baju yg kebetulan lo incer.. jadinya persaingan.. cari barang2 yg kebetulan dia ga liat.. kecuali klo lo bisa lebih tinggi bidnya dr dia ya ga masalah

* Spelling Mistakes

Many people can't spell, and make many mistookes, even if they can spell they may easily mis-type. If there is a spelling mistake in the title for an item it may not be found by searches. So, if you regularly search for something, try searching with a mis-spelling, you never know what you might find. Try out the SearchGnome mispell search, you will be surprised, or try this online misspelled search!

Indo > Cari barang2 yg ejaannya salah.. misal cari baju liverpool.. kadang2 ada org yg naro namanya salah.. jadi liverfool (contoh).. nah karena salah ejaan gini, kadang2 ga ada org yg liat.. dan lo bisa manfaatin utk dpt harga murah..

Saturday, August 6, 2011

Disparitas Juventus Pra dan Pasca-Calciopoli



Banyak orang melihat perbedaan besar antara Juventus pra-calciopoli dan pasca-calciopoli. Juventus pra-calciopoli adalah tim tangguh pantang menyerah yang selalu punya 1.001 cara kembali dari keadaan tertinggal untuk keluar sebagai pemenang. Salah satu "tersangka" di balik ketangguhan mereka itu adalah sang guru transfer andal, Luciano Moggi. Sebaliknya, "Si Nyonya Tua" pasca-calciopoli adalah tim rapuh yang inkonsistensi. "Tersangka" utamanya adalah, Alessio Secco.

Karier Moggi di Juventus dimulai pada 1994. Sebelumnya dia sempat bekerja untuk beberapa tim Italia lainnya seperti Torino, Napoli, Roma dan Lazio. Sejak itu, ia berhasil membangun karier di tim "Si Nyonya Tua" sebagai salah satu juru transfer terbaik di Italia dengan sederetan cerita suksesnya mendatangkan pemain-pemain muda potensial atau bintang besar sepak bola bermental juara dengan harga miring.

Di musim pertamanya, ia sukses membantu Juventus merekrut nama-nama seperti Alessio Tacchinardi, Ciro Ferrara, Didier Deschamps dan Paulo Sousa. Para pemain baru tersebut, seperti yang kita ketahui, berhasil menjadi tumpuan klub selama bertahun-tahun lamanya dan mendatangkan berbagai trofi bergengsi ke klub asal Turin tersebut.

Ferrara dianggap sebagai salah satu bek terbaik Italia di generasinya, di samping nama-nama besar lain seperti Franco Baresi, Alessandro Costacurta dan Paolo Maldini. Ia juga sukses mematri tempat di tim utama Juventus selama sepuluh tahun ke depan dan sempat menjadi kapten tim pada musim 1995/1996. Sementara itu, Deschamps adalah kapten Perancis yang sukses membawa timnya menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Hal itu jelas bisa menunjukkan bagaimana kualitas dan kapabilitas Deschamps di lapangan.

Pada musim keduanya, Moggi dan staf direksi Juventus mengeluarkan keputusan berani dengan melego sang fantasista Roberto Baggio ke AC Milan. Mereka mengambil keputusan itu berdasarkan penampilan cemerlang Alessandro Del Piero yang baru dipromosikan satu musim sebelumnya. Ia dianggap bisa berkembang lebih baik lagi dan menjadi tumpuan lini serang tim untuk bertahun-tahun lamanya. Hal itu sama sekali tak salah, saat ini Del Piero adalah pencetak gol terbanyak Juventus sepanjang masa dengan total torehan 285 gol.

Di musim itu, ia juga mendatangkan Gianluca Pessotto yang sukses menjadi pilihan utama selama bertahun-tahun lamanya berkat kemampuan beradaptasi di banyak posisi, serta ketangguhannya dalam permainan itu sendiri. Pessotto berhasil tampil di lebih dari 250 pertandingan bersama Juventus dan mengakhiri karier profesionalnya pada musim 2005/2006.

Musim 1996/1997, Moggi melakukan tiga pembelian penting dalam diri Christian Vieri, Zinedine Zidane dan Paolo Montero. Bersama Mark Iuliano, Ferrara dan Pessotto, Montero berhasil membentuk salah satu barisan pertahanan terbaik di Italia dan juga Eropa. Ia pun berhasil bermain di lebih dari 200 pertandingan bersama "Si Nyonya Tua". Sementara itu walau hanya bermain selama semusim, Vieri yang baru berusia 24 tahun sukses mencetak 14 gol sebelum hijrah ke Atletico Madrid pada musim selanjutnya.

Zidane, bisa kita katakan sebagai pembelian terpenting Juventus musim itu. Ia berhasil menjadi pengatur serangan serta metronom lini tengah Bianconeri yang mengantar tim tersebut menjuarai dua gelar Serie-A, serta masing-masing satu Piala Super Italia, Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental. Ia sempat dua kali membawa Juventus ke final Liga Championa, tapi gagal juara karena takluk 1-3 oleh Borussia Dortmund (1996/1997) dan kalah 0-1 oleh Real Madrid (1997/1998).

Musim 1997/1998, Moggi dan Juventus sukses melabuhkan Edgar Davids dan Filippo Inzaghi ke timnya. Davids akhirnya dikenal sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di eranya dan berhasil membangun kerja sama luar biasa di lini tengah bersama Zidane. Stamina dan energi Davids yang seperti tak ada habisnya membuat pelatih saat itu, Marcello Lippi, mendeskripsikan pemain asal Belanda tersebut sebagai, "Mesin penggerak timku."

Sementara itu, Inzaghi pun sukses membentuk duet lini serang menakutkan di Italia dan Eropa bersama Del Piero. Pippo berhasil mencetak 89 gol dari total 165 pertandingannya bersama Bianconeri, sebelum akhirnya pindah ke Milan karena kalah bersaing dengan David Trezeguet.

Setelah itu, masih banyak transfer penting yang dilakukan Moggi seperti pembelian Gianluca Zambrotta pada 1999/2000, Trezeguet pada 2000/2001, trio Gianluigi Buffon, Pavel Nedved dan Lilian Thuram pada 2001/2002, serta Mauro Camoranesi pada 2002/2003. Kedatangan para pemain itu membuat para suporter bisa segera melupakan kepergian Zidane ke Real Madrid atau Inzaghi ke Milan.

Thuram adalah juara Eropa dan Dunia bersama Perancis. Sementara itu, Zambrotta, Camoranesi dan Buffon, menjadi pilihan pertama di tim utama Juventus selama bertahun-tahun lamanya dan menjadi tumpuan tim Italia ketika menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman. Nedved bahkan meraih penghargaan Ballon d’Or pada 2003 yang menobatkan dirinya sebagai pemain terbaik Eropa saat itu.

Salah satu kisah uniknya adalah saat ia berhasil mengecoh pemandu bakat Inter untuk membeli pemain yang salah. "Pada tahun 1999 saya mengintai pemain Marseille dan saya menyadari pemandu bakat Inter juga berada di sana untuk mengincar pemain yang sama, lalu saya membuat mereka salah arah. Secara sengaja saya mengeraskan suara saya, memuji penampilan Cyril Domoraud agar mereka dengar. Tak selang satu minggu, Inter dihubungkan media dengan pemain itu, dan berakhir dengan benar-benar membelinya, dan apa yang terjadi, Cyril tetaplah pemain kelas semenjana," tutur Moggi suatu hari.

Musim 2004/2005 dan 2005/2006, Moggi kembali beraksi dengan memboyong Emerson, Fabio Cannavaro, Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira. Kedatangan mereka dan pelatih Fabio Capello berhasil membuat Juventus saat itu dijuluki sebagai "The Dream Team".

Jonathan Zebina, Zambrotta, Thuram, Cannavaro dan Buffon sukses membuat para penyerang lawan mati kutu akibat rapatnya lini pertahanan yang mereka bentuk. Lalu Emerson, Vieira, Nedved dan Camoranesi selalu bisa mendominasi lini tengah, mencetak gol dan mencari 1.001 cara untuk melayani para penyerang dengan umpan-umpan matang. Duet penyerang Ibra-Trezeguet bahkan harus memaksa ikon klub, Del Piero, untuk senantiasa duduk di bangku cadangan.

Susunan tim yang luar biasa berhasil membawa raihan berupa dua gelar Serie-A secara beruntun di musim 2004/2005 dan 2005/2006. Sayangnya, dua gelar itu harus dicopot di kemudian hari karena Juventus terbukti bersalah dan terlibat dalam kasus pengaturan skor yang disebut calciopoli. Moggi menjadi dalang utama di balik kasus tersebut dan dilarang terlibat kembali dalam seluruh aktivitas sepak bola untuk selamanya. Juventus harus rela didegradasi ke Serie-B untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, dan kisah kelam mereka pun dimulai di sini.

Juventus pasca-calciopoli

Alessio Secco, bawahan Moggi sebelumnya, naik jabatan menjadi Direktur Olahraga Juventus menggantikan sang guru transfer pada 23 Mei 2006. Musim 2006/2007, eksodus pemain terjadi di Juventus karena mereka tak mau ikut berjuang bersama tim tersebut di kompetisi kasta dua, Serie-B. Ibrahimovic dan Vieira pindah ke Inter, Emerson dan Cannavaro hijrah ke Madrid, Zambrotta dan Thuram berlabuh di Barcelona serta Manuele Blasi dan Adrian Mutu bergabung dengan Fiorentina.

Untungnya, beberapa ikon klub semacam Del Piero, Buffon, Nedved dan Trezeguet, memutuskan untuk tinggal dan menunjukkan loyalitasnya pada "Si Nyonya Tua". Bersama beberapa pemain berpengalaman tersebut, Juventus memaksimalkan potensi para pemain mudanya serta mendatangkan para pemain yang dianggap tepat untuk tim. Setidaknya dianggap tepat oleh Secco saat itu.

Di tahun pertamanya, Secco mendatangkan bek Jean-Alain Boumsong, Penyerang Valeri Bojinov serta gelandang kawakan Cristiano Zanetti. Ia juga memanggil serta membeli kembali para pemain yang pernah membela Juventus sebelumnya seperti Igor Tudor, Nicola Legrottaglie, Marco Marchionni, Raffaele Paladino dan Tomas Guzman. Saat itu suporter memang tak bisa menuntut banyak karena maklum dengan kondisi serba salah tim yang sulit untuk meyakinkan pemain muda potensial atau bernama besar untuk datang ke Juventus.

Musim itu, Juventus langsung sukses menjuarai Serie-B dan kembali promosi ke Serie-A dengan Del Piero mengakhiri kompetisi sebagai top skor. Para pemain muda seperti Paladino, Paolo De Ceglie dan Claudio Marchisio pun sukses mencuat dan memunculkan harapan baru bagi suporter untuk melihat mereka sebagai fondasi tim di tahun-tahun mendatang.

Setelah kembali ke Serie-A, menjadi tugas Secco untuk mencari pemain-pemain tepat yang bisa membuat Juventus kembali kompetitif untuk bersaing dalam perebutan gelar juara dan kembali ke Liga Champions. Bila dahulu Moggi menggunakan prinsip "bukan kuantitas, tapi kualitas", Secco ternyata malah melakukan hal sebaliknya. Pada musim 2007/2008 ia memanggil kembali Manuele Blasi dan Domenico Criscito, serta melabuhkan Sergio Almiron, Zdenek Grygera, Vincenzo Iaquinta, Jorge Andrade, Cristian Molinaro, Antonio Nocerino, Ruben Olivera, Hasan Salihamidzic dan Tiago.

Hasilnya? Criscito tak cukup kuat mental untuk bermain sebagai pilihan utama di tim dan kompetisi besar sehingga melempem, Andrade lebih banyak "bermain" di ruang perawatan dibanding di lapangan, serta Almiron dan Olivera yang disebut-sebut akan menjadi tumpuan di lini tengah tim malah tampil di bawah standar. Iaquinta dan Grygera sempat tampil lumayan, tapi bukan pemain yang bisa bersinar di pertandingan besar. Sementara itu sisanya tampil dengan kelas medioker di sepanjang musim yang berjalan.

Harapan sempat membumbung dengan kedatangan Mohammed Sissoko serta pemain muda berbakat, Albin Ekdal, di bursa transfer musim dingin. Tapi keduanya hanya menjanjikan di awal, tapi gagal bersinar di akhirnya.

Musim kedua Secco di Serie-A tak berbeda. Ia mendatangkan Olof Mellberg, Christian Poulsen, Amauri Carvalho, dan beberapa pemain lainnya di awal musim. Kehadiran Poulsen dipertanyakan para suporter karena yang dibutuhkan tim saat itu sebenarnya adalah seorang pengatur serangan andal, bukan gelandang bertahan, lagi. Sementara itu Amauri banyak digembar-gemborkan media sebagai pendulang gol baru Juventus. Harapan tinggi disematkan padanya.

Nyatanya, Mellberg kerap cedera dan penampilannya standar, Poulsen melempem, lalu Amauri hanya bersinar di awal dan menurun menjelang akhir. Penyerang asal Brasil itu sukses mencetak 14 gol di musim pertamanya, tujuh gol di musim kedua dan tiga gol di musim ketiganya. Itu termasuk puasa golnya selama tujuh bulan berturut-turut pada 2009 lalu. Mengecewakan.

Pada musim 2009/2010, Secco melabuhkan dua pemain senior yang sukses menjuarai Piala Dunia 2006 lalu bersama Italia, yaitu Fabio Grosso dan Cannavaro. Selain itu, ia juga mendatangkan duo pemain asal Brasil dengan harga tinggi dalam diri Diego Ribas dan Felipe Melo. Diego banyak dikatakan akan menjadi "The Next Zidane" dan Melo dianggap sebagai jawaban tepat bagi pencarian gelandang pemutus serangan andal di lini tengah Juventus.

Lagi-lagi, ekspektasi tinggi suporter harus dibayar dengan kekecewaan dan kegeraman. Diego tampil bagus di awal, tapi kehilangan sinarnya sejak pertengahan musim. Bila Zidane bisa membawakan dua gelar Serie-A untuk Juventus, maka prestasi terbaik Diego adalah posisi tujuh Serie-A di akhir musim 2009/2010. Ia gagal berintegrasi dengan klub dan tak bisa diandalkan dalam mengatur irama permainan tim.

Melo tak jauh berbeda nasibnya. Di akhir musim, suporter hanya mengenalnya sebagai pemain yang suka berlari tak tentu arah di lapangan dengan akurasi umpan dan operan yang sangat buruk. Cannavaro dan Grosso? Masa keemasan mereka sebagai pemain telah lewat, mungkin pensiun adalah pilihan yang tepat bagi mereka.

Perbedaan drastis Ada perbedaan drastis antara pola perekrutan pemain dan prestasi yang dicapai Moggi dan Secco ketika masing-masing menjabat sebagai Direktur Olahraga Juventus. Moggi lihai mendatangkan pemain berkualitas tinggi dengan harga miring. Ia juga tahu kapan saat yang tepat untuk menjual pemain dengan harga yang tinggi dan mencari penggantinya.

Contoh paling mudah adalah saat Moggi merekrut Zidane dari Bordeaux dengan harga 3,2 juta poundsterling, dan menjualnya kembali dengan nilai 46 juta poundsterling ke Madrid yang memecahkan rekor transfer dunia saat itu. Kepergian Zidane pun tak ditangisi karena Moggi segera menemukan penggantinya dalam diri Nedved.

Lalu, Moggi pun pernah mengecoh Inter sekali lagi untuk mendatangkan Cannavaro. Ia mengatakan pada media bahwa kiper cadangan Juventus saat itu, Hector Fabian Carini, memiliki potensi besar untuk sukses di masa depan. Hal itu berhasil mendorong Inter untuk menukar Cannavaro yang kerap cedera dengan Carini secara cuma-cuma. Hasilnya, Cannavaro berhasil menjuarai Serie -A bersama Juventus, La Liga bersama Madrid dan Piala Dunia bersama Italia. Carini? Dia cuma bermain sebanyak empat kali selama tiga musim bersama Inter, dan orang-orang tetap tak mengenal siapa dirinya hingga saat ini.

Moggi juga berhasil membeli Emerson, yang merupakan tumpuan AS Roma di lini tengah sejak lama, "hanya" dengan harga 12 juta euro. Legenda Arsenal, Vieira, juga didatangkan dengan harga miring, yaitu senilai 20 juta euro. Performa dan kemampuan Vieira saat itu dianggap banyak orang berada jauh di atas nilainya tersebut.

Bagaimana dengan Secco? Pada musim 2008/2009 ia membeli Amauri dengan harga 22,8 juta euro hanya untuk melihat mantan pemain Palermo tersebut mencetak 24 gol dalam tiga musimnya berseragam Juventus. Bila dirata-rata, Juventus harus membayar 950.000 euro untuk setiap gol yang dicetak Amauri.

Sama halnya dengan Diego, Secco merekrutnya dari Werder Bremen dengan harga 24,5 juta euro, tapi di akhir musim kembali menjualnya ke Wolfsburg dengan harga 15,5 juta euro. Juventus rugi 10 juta euro dan jelas telah salah berinvestasi. Melo yang didatangkan dengan harga tak jauh beda, 25 juta euro, beruntung tak dijual kembali sampai saat ini, tapi ia tetap kesulitan untuk bermain konsisten dan mendapat tempat di tim utama.

Secco, benar-benar gagal membangun tim dengan aktivitas transfernya selama ini. Pemain yang ia beli kerap menjadi pesakitan dan hanya berstatus sebagai beban bagi klub. Ia jelas tak ada apa-apanya dibandingkan Moggi. Moggi sendiri sempat menyatakan ketidakpuasannya akan pergerakan Juventus bersama Secco di bursa transfer.

"Jika saya masih berada di sana, saya tidak akan membayar dia (Felippe Melo) semahal itu. Kontribusi yang diberikannya kepada tim sangat minim sehingga tim tak tampil maksimal. Pantasnya dia hanya dibayar separuh dari harga yang telah disepakati," kata pria berusia 74 tahun itu suatu hari.

Asa untuk Marotta Pada musim 2010/2011 lalu, Juventus kehabisan kesabaran pada Secco dan kemudian menunjuk Giuseppe "Beppe" Marotta sebagai suksesornya. Marotta dianggap sukses mengangkat Sampdoria dengan aktivitas transfernya di sana. Ia berhasil membawa pemain-pemain yang menjadi tulang punggung Sampdoria dengan harga yang sungguh minim.

Marotta berhasil merekrut Marco Storari dari AC Milan dan Luciano Zauri dari Fiorentina dengan status pinjaman. Lalu Reto Ziegler (1,4 juta euro) dan Franco Semioli (nilai dirahasiakan) juga dilabuhkan ke "Il Samp". Selain itu, ia juga sukses membeli Giampaolo Pazzini dari Fiorentina dengan perkiraan harga tujuh juta euro dan Antonio Cassano dari Madrid dengan nilai yang dirahasiakan. Mereka berdua sukses membentuk duet lini serang mematikan dan mengangkat performa Sampdoria di Serie-A.

Di musim 2010/2011, Marotta mulai menunjukkan aksinya di Juventus. Ia berhasil mendatangkan Fabio Quagliarella, Alberto Aquilani, Milos Krasic, Leonardo Bonucci dan Simone Pepe di musim panas, serta Alessandro Matri, Andrea Barzagli dan Luca Toni di musim dingin. Hasilnya, Juventus tetap terpuruk dan hanya bisa meraih posisi tujuh, lagi, di klasemen akhir Serie-A. Tapi, asa suporter tetap terjaga dengan sederetan penampilan gemilang dari Krasic, Quagliarella, Matri dan Pepe. Mereka dianggap belum menunjukkan potensi maksimalnya dan akan bersinar lebih terang musim depan.

Menjelang dimulainya musim 2011/2012, Marotta dan Juventus telah merekrut beberapa pemain penting dalam diri Andrea Pirlo (gratis), Reto Ziegler (gratis), Arturo Vidal (10,5 juta euro) dan Mirko Vucinic (15 juta euro). Melo dan Sissoko yang tak tampil maksimal selama ini pun dilepas ke klub lain. Walau harga Vucinic cukup mahal untuk pemain seusianya, ia diyakini dapat menguatkan sektor penyerangan Juventus saat ini. Lagi pula, pembayaran untuknya dilakukan dengan cara angsuran selama tiga tahun lamanya.

Rasanya, saat ini aktivitas Juventus di bursa transfer telah lebih baik dari sebelumnya saat Secco masih berkuasa. Pemain yang dibeli memang sesuai dengan kebutuhan tim dan memiliki harga lebih rasional. Tapi, rasanya terlalu cepat untuk menilai kinerja Marotta. Mari kita lihat bersama, mampukah Marotta mengangkat kembali Juventus dari keterpurukan?

Tuesday, August 2, 2011

4 Pemain yang akan Membawa Juventus Berjaya Lagi




Sebelum kasus Calciopoli, Juventus merupakan tim yang menakutkan bagi setiap klub di dunia dengan memiliki banyak pemain bermental juara. Dari aspek permainan mereka sangat terorganisir. Bahkan pelatih Fabio Capello mengatakan melatih Juventus pada era 2005-2006 bagaikan melatih para robot. Mereka melakukan apapun sesuai perintah tanpa cacat.

Setelah semuanya berlalu pada musim panas 2006, banyak pemain bintangnya yang meninggalkan tim tersebut dan Juventus terdegradasi ke Serie B. Sekarang Juve tengah membangun kekuatan dengan melepas masa suram setelah lima tahun berlalu, mereka mencoba membangun sebuah tim yang bisa bersaing dengan baik

Pada musim panas ini, Giuseppe Marotta mendatangkan beberapa pemain seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal, dan Stephan Lichsteiner yang bisa dikatakan pemain berkelas. Berikut empat pemain yang harus didatangkan Juventus untuk bisa berjaya lagi, menurut bleacherreport, Jumat (29/7/2011).

1. Mats Julian Hummels
Giorgio Chielini merupakan bek berkualitas. Namun, Juventus telah kebobolan banyak gol karena Chielini belum dapat pasangan yang ideal. Chielini bermain dengan otot dan jantung tapi bukan pembaca permainan yang bagus.

Untuk itu bek tengah Mats Julian Hummels dari Borrusia Dortmund merupakan pilihan tepat guna menemani Chielini di belakang. Keuntungan lain, pemain asal Jerman tersebut sudah terbiasa dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-2-4 arahan pelatih Juventus Antonio Conte. Hummels pernah bermain dengan strategi itu di Borrusia Dortmund.

2. Jose Manuel Vargas
Bek kiri telah menjadi titik lemah Juventus dari tahun ke tahun, meskipun ada De Ceglie dan Retro Ziegler merupakan pemain bagus, mereka buka pemain kelas atas. Vargas telah melakukkannya dengan tingkat yang lebih tinggi, dia juga selalu bagus dalam bertahan dan membatu serangan. Apalagi umpan darinya akan memanjakan para striker Juve.

3. Giuseppe Rossi
Striker Alessandro Del Piero mungkin sudah terlalu veteran buat Bianconerri, Juventus pun butuh pemain yang bisa menggantikan perannya. Pilihan yang cocok tertuju pada striker Villareal, Giuseppe Rossi. Selain memiliki karakter yang sama dengan Del Piero, dia juga merupakan pemain Italia. Meskipun dia bukan spesialis tendangan bebas. Tapi Juve sangat tertarik padanya bahkan sejak dua tahun lalu.

4. Marko Marin
Juventus tidak mempunyai sayap kiri dan mereka sangat membutuhkannya untuk mengangkat performa sejak ditinggal Pavel Nedved. Pemain Werder Bremen itu masih sangat muda dan masih belum cukup dewasa untuk mendekati performa Nedved. Namun permainannya yang cepat dan umpan silang akurat yang ia miliki sangatlah dibutuhkan pemain Juve. Dengan datangnya Marin di sayap kiri dan Krasic di sayap kanan, membuat sektor sayap Bianconerri bisa lebih menakutkan.

Sunday, June 12, 2011

paradigma kuno menyesatkan

ane cuma mo menanyakan
beberapa hal yang sering sekali
orang tua katakan pada anaknya,,,

kenapa mereka sering mengatakan:


Quote:
"nak, belajar yang pinter,,, biar nanti gampang cari kerja."
sepertinya koq aneh sekali mereka ngomong gitu!

dari kalimat tadi, ada dua tujuan yang bisa kita tangkap jelas:
1. belajar biar pinter
2. gampang cari kerja

2 hal ini jelas-jelas paradigma yang dibangun kaum penjajah biar kita bisa dimanfaatkan dengan mudah.

kenapa?

1. biar PINTER,
jadi kita dididik biar pinter aja, otak kita penuh dengan pelajaran-pelajaran.
kita ga dididik jadi orang yang cerdas, penuh akal, karena penjajah takut kita justru bisa mengakali mereka.
kita ga dididik jadi orang yang kritis, tanggap, dan demokratis karena penjajah takut kita bisa memberontak seketika.

2. cari kerja,
jadi kita dididik hanya untuk mencari pekerjaan,
bukan untuk menciptakan pekerjaan.
penjajah hanya ingin kita bekerja untuk mereka, bukan untuk kita sendiri.
penjajah takut kita lebih maju dari mereka.

So, kalau yang sampai saat ini masih menggunakan paradigma itu, maaf, ANDA MASIH HIDUP DALAM MASA PENJAJAHAN.

kalau hanya untuk pintar, beli buku aja se Grame*dia, 1 minggu khatamin 1 buku. dijamin pinter.
kalau hanya nyari kerja, sampah di jalanan masih banyak tuh, nyapu di jalanan juga pekerjaan yang mulia bukan?

trus sekarang dah terlanjur begini, apa yang bisa kita lakukan??

gampang,

1. introspeksi diri, cari hal apa yang sering bikin agan lupa makan, minum, tidur, bahkan bernafas.

apakah editing video? jadilah editor profesional.
ngerjain soal-soal akuntansi? jadilah dosen or akuntan publik handal.
nggambar-nggambar sotosop or corel? jadi desain grafis aja,,,

jangan takut untuk beralih ke segala hal yang kamu sukai, ketika kamu berjuang untuk sesuatu yang kamu suka, seberat apapun tantangannya
pasti akan kamu hadapi dengan senang hati.

2. fokus, jadikan hobimu sebagai fokus profesimu.
jangan takut kalau kamu nanti ga dapet kerja, kerjaan itu bisa dateng darimana aja. ketika kamu dah profesional di bidangmu,
pekerjaanlah yang akan mencarimu.

kalau hobimu mancing, profesionalah di bidang mancing, lalu tunggulah pengusaha-pengusaha kolam pemancingan yang akan datang berkonsultasi tentang kolam ikannya
atau pengusaha peralatan mancing yang meminta anda menjadi Kepala bidang research and development.

KALAU MASIH SD, SMP gmn?

1. kalau emang tujuannya agan mo cari kerja, ntar klo mo lanjut sekolah, jangan masuk SMA, pilih aja SMK.

2. kalau tujuan agan sekolah mo jadi ilmuwan, baru silahkan masuk SMA.

3. pilih jurusan yang emang agan suka, jangan lagi berpatokan dengan patokan yang konyol bahwa klo jurusan IPA buat yang pinter, IPS buat yang bodo.

saatnya kita tahu esensi pendidikan yang kita jalani saat ini,
jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang
untuk mengejar embel-embel SBI (Sekolah berstandar Internasional),
atau goodwill suatu universitas (yang penting UI/UGM),
bukan itu esensi pendidikan.

seharusnya dunia pendidikan membuat yang berada di dalamnya
menjadi insan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
bukan untuk menambah beban hidup orang tua
atau menambah beban negara.


Cara belajar paling efektif adalah: Bekerja sambil belajar.
betapa banyak mahasiswa yang malas kalau suruh belajar?
itu karena ga ada motivasi lain untuk belajar, kecuali untuk lulus ujian.
lihat bedanya, seorang pegawai swasta yang sangat antusias
dalam mengikuti kursus brevet pajak walaupun begitu banyak
aturan pasal-pasal dan tarifnya.
mereka sangat antusias karena mereka merasa BUTUH pelajaran
itu untuk kehidupannya. kehidupan nyata-nya.


di sini kita bisa lihat, dunia pendidikan seperti memiliki dunia sendiri dan tidak peduli dengan dunia nyata yang akan dihadapi oleh almamaternya. ironis.

tapi kalau bekerja dulu sambil belajar,
mana ada perusahaan yang mau nerima pegawai
yang belum tahu apa-apa, dan baru mau belajar nanti kalau dah kerja?

hanya ada satu perusahaan yang mau nerima orang-orang kaya gitu.
yaitu perusahaanmu sendiri.

so jangan takut untuk memulai untuk membangun perusahaan sendiri.
jangan bayangkan perusahaan harus yang megah, punya kantor,
punya pegawai banyak, modal miliaran,,,,hmph,,

coba liat dulu ke kaskus tercinta ini,
awalnya bukankah kaskus ini didirikan hanya oleh 1 orang?
bang andrew...

mungkin awalnya kaskus hanya memiliki kantor di satu kosan kecil
di amrik sana, sampai akhirnya sekarang punya kantor sendiri
dan jutaan member.

mulailah dari yang kecil, lihat sekelilingmu,
disana banyak sekali peluang menanti.

dari sesuatu yang kamu mulai itu,
bersiaplah untuk menjadi pribadi pembelajar,
yang tak sadar bahwa sebenarnya anda sedang belajar keras
untuk meningkatkan kualitas diri.

nah, jadi harusnya apa donk yang dipelajari di sekolah
biar nyambung dengan dunia nyata?

buang paradigma SEKOLAH TEMPAT MENIMBA ILMU.
Sekolah seharusnya tidak hanya untuk menimba ilmu,
tapi juga membangun sikap dan prilaku siswanya.

mungkin akan lebih bijak jika sekolah SD
tidak perlu memberikan pelajaran susunan pemerintahan,
hukum dan kewarganegaraan.

cukuplah mengenalkan siapa presiden kita yang harus kita hormati,
menyanyikan lagu-lagu nasioanal, memainkan alat-alat musik tradisional.

alangkah bijaksana jika SD hanya mengajarkan
hal-hal yang nyata-nyata dibutuhkan untuk anak-anak seusianya,

mereka butuh bermain, butuh berinteraksi dengan teman-temannya.
mereka tidak membutuhkan les matematika, les bhs inggris,
dan les-les lainnya.

biarkan si anak mengutarakan kenginginannya, kesukaannya,
berikan waktu yang cukup untuk mereka melakukan hobinya...

ketika sudah mulai beranjak dewasa,
saatnya dunia pendidikan memberikan arahan
untuk menjadi pribadi yang anggun,

tanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, kerjasama,
gotong-royong, pantang menyerah,
kreatif, kritis, atraktif....

sediakan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan,
yang mereka tanyakan kepada gurunya.
pertanyaan yang mereka dapatkan sendiri dari observasi sederhana
dalam kehidupan mereka di rumah, bersama teman di lingkungannya,
ataupun di lingkungan sekolahnya,,

jadikan sekolah tempat yang menyenangkan untuk berinteraksi, mencari dan menggali ilmu. bukan menjadikan sekolah sebagai tempat untuk membuang uang, tenaga pikiran, hanya untuk mencari titel bekal mancari pekerjaan.


trus kenapa mereka juga mengatakan:

Quote:
"sudahlah,,, ga usah mikir yang macem-macem,,, yang penting kuliah, belajar, pinter, trus kerja"
tolong agan jawab sejauh yang agan ketahui,,
1. berapa banyak anak sma/smk yang melanjutkan ke perguruan tinggi? banyak.
2. berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang sampai sekarang masih menganggur? banyak.
3. berapa banyak yang mengeluhkan lulusan perguruan tinggi

tidak siap turun di dunia kerja? banyak juga.


Ya iyalah!!
jelas lulusan perguruan tinggi itu ga siap turun di dunia kerja
karena memnang ga dididik untuk jadi babu di dunia kerja.
mereka ga di didik untuk pegang komputer ngurus surat-menyurat.
mereka juga ga diajarin untuk berangkat pagi pulang petang tertib absen tiap hari.

mahasiswa di perguruan tinggi itu, diajarin tentang ilmu-ilmu yang tinggi.
abstrak ga bisa dibayangin di dunia nyata.
sebenernya bukan ga bisa di bayangin, tapi ga butuh dibayangin, karena mereka
ga punya pengalaman dan juga ga butuh bagi implementasi di dunia nyata mereka
untuk menganalogikan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diterima di kampus.

mahasiswa itu dididik untuk selalu kritis atas pernyataan dosen,
sebaliknya dunia kerja butuh bawahan yang "sendiko dawuh", siap laksanakan, atas perintah atasan.

mahasiswa itu dididik untuk siap sedia klo mau ujian aja,
sedangkan dunia kerja menuntut setiap yang kita kerjakan adalah ujian
yang menentukan nasib pekerjaan kita selanjutnya.

jadi kalau mau cari kerja, bukan di perguruan tinggi tempatnya,,,

di tempat kursus komputer,
kursus njait,
kursus bahasa,
dan kursus-kursus lainnya
yang mengasah kemampuan praktek, keterampilan,
bukan kemampuan otak.

bukan maksud ane orang kerja cuma butuh keterampilan n ga butuh otak,
orang kerja juga butuh otak,
tapi bukan otak yang isinya logaritma,
aljabar, statistika, manajemen keuangan, ekonomi makro, mikro, dsb dll....


tapi otak yang penuh akal, inspirasi, inovasi...

latihannya bukan dengan buku,
tapi dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari.

bagaimana menyiasati uang bulanan yang tiap tanggal 15 dah tinggal 5rb perak.
bagaimana langganan internetan bukan cuma buat browsing BB+17, tapi bisa buat beli BB buat gaya-gaya gitu,,,
itu yang dibutuhkan buat dunia kerja.

udah banyak orang bilang,
kalo ilmu yang kita terima di sekolah/kampus
hanya terpakai 10% saja di dunia kerja.

tapi kenapa kita masih bela-belain
mati-matian mpe setengah mati
berusaha dapet yang cuma 10% itu
dengan beratus-ratus ribu hanya untuk beli formulirnya

berjuta-juta untuk dapet topi yang ada gantungannya.

padahal itu cuman 10%!!!!

kenapa kita ga mati-matian nyari yang 90%?
katanya 90% itu EQ dan SQ,
so,,,,
apa iya berteman itu mbayar?
sejak kapan solat harus mbayar?
kenapa kita ga mati-matian nglatih
inovasi, kreatifitas, kejujuran,
apa orang jujur harus mbayar juga?
apa belajar inovasi dan kreatifitas juga harus mbayar?
bukannya inovasi dan kreatifitas yang membuat kita
berusaha untuk memperoleh segala sesuatu dengan gratis?

kenapa coba bisa gitu? konyol kan...
mencari burung gereja yang terbang tinggi,
padahal di depan mata ada merpati dalam sangkar.

perguruan tinggi itu, tempatnya orang jadi ilmuan.
dari namanya aja dah jelas.

PERGURUAN TINGGI.
PERGURUAN= tempat PERkumpulan calon-calon GURU dAN dosen.
TINGGI= ilmunya TINGGI-tinggi, jadi ga cocok buat otak ane yang ga kuat buat ilmu yang ketinggian.

so, kenapa harus ke perguruan tinggi klo tujuannya cari kerja?
jadi babu perusahaan besar dan ternama.
melatih otak setinggi-tingginya,
padahal jelas-jelas nanti yang dipakai adalah keterampilan.

mati-matian melatih anjing bersiul,
padahal yang ditakuti dari anjing adalah gonggongannya.


then.... yang bikin ane ga bisa tidur malam tadi,,,,,

kenapa mereka sering bilang gini:

Quote:
"nak, belajar yang rajin ya,,,
biar ntar klo dah lulus kuliah, pada cari kerja ke kota,,,
klo dah kerja, berkeluarga, ntar ajak bapak ibu ke sana ya,,,"
sehingga dengan seketika
yang ada di bayangan ane
hidup itu ya
sekolah - kuliah - cari kerja - nikah - bapak ibu seneng - punya anak - mati.

yah, cuma itu bayangan hidup bagi ane

tapi kenapa harus cuma itu?
kenapa jalurnya harus seperti itu???

apa ga bisa atau ga ada
jalur lain buat ane yang bodo dan miskin??

ane ga akan kuat sekolah
apalagi kuliah

yang kuliah aja banyak yang nganggur,
apalagi yang ga kuliah!

whatever lah,, yang jelas ane bingung!!! ngrasa TOLOL

apa iya hidup itu cuma buat pinter - kerja - kimpoi - mati?

apa ga lebih bermanfaat kalo..

hidup itu ga perlu diawali
dengan harus pinter....

kenapa orang harus pinter
klo ujung-ujungnya jadi pengangguran

kenapa harus pinter klo
ujung-ujungnya ga bisa
memberikan manfaat buat orang banyak

kenapa harus pinter klo
cuma buat membodohi orang lain???

pinter buat sendiri,, egois banget!!!

hah!!! TOLOL

kenapa orang ga jadi bodo aja!
bodo biar ga bisa nipu orang..

ga bisa ngomong yang tinggi-tinggi,
biar yang denger ga bingung
yang mbaca ga mumet

bodo biar gampang dimanfaatkan orang lain!
soalnya kata hadist,,
"sebaik-baiknya manusia,
adalah yang bermanfaat bagi orang lain"

hah! TOLOLnya ane,,,

trus apa iya orang kerja harus pinter?

nyapu jalanan kerja kan?
apa harus pinter?

mo kerja yang kaya apa.....
jadi boz?
emang harus pinter???

yang ane tau klo mo jadi boz tuh,,,
yang penting dihormati ma bawahan,,,

boz tapi isinya dicela terus ma bawahan,
sok pinter!
itu yang namanya boz???

biar dihormati ga harus pinter,,,,
orang dihormati tuh klo dia juga menghormati,,,

dia cerdas, penuh kreatifitas, inovasi,
apapun masalah yang ada dari bawahan,
bisa dia pecahkan dengan bahasa sederhana,
ga pake bahasa yang tinggi-tinggi,,
itu bukan bahasa bawahan,,,

kenapa orang klo denger kata kerja
pasti ingetnya karyawan/ boz perusahaan

haahh!!!!
itu satu dari ribuan macam pekerjaan!!!

ane bingung,

Nabi Muhammad nyontohinnya
klo ga jadi PEMIMPIN AGAMA, PEDAGANG YANG JUJUR, ya PEMIMPIN NEGARA.

tapi koq cita-cita ane jadi buruh?
yang namanya boz juga buruh perusahaan kan???

trus sebenernya ane hidup itu nyontoh siapa?????????
kenapa ane ga pengen jadi ALIM ULAMA aja?
kenapa ane ga pengen jadi PRESIDEN aja?
hah,,, apalagi jadi PEDAGANG yang jujur,,,, modal aja ga ada,,,,

f*ck klo bilang modal ga ada!!! punya otak kanan, penuh akal,inovasi, kreatifitas, masa itu bukan modal? punya kaki dan tangan buat banting tulang, masa itu bukan modal?
duit??? duit tuh bukan modal! duit tuh yang dicari!!! klo duit dah ada, buat apa dijadiin modal! pake aja buat foya-foya aja!! susah susah amat....


kenapa sih
hidup cuma buat sendiri?

mo sepinter apa juga,
klo cuma buat sendiri percuma!

sekilas pasti orang kagum
klo liat orang kuliah di luar negeri

tapi apa iya tetep kagum,
klo ternyata dia kerja di luar negeri
gendutin perut sendiri
perut anak istrinya doank

yang ada tinggal caci maki!
pinter tapi ga berguna buat masyarakat!

sekilas, pasti ngerasa kasian
liat orang cuma ijasah smk

tapi apa masih pantas kasihan?
ternyata dia dah punya ratusan pegawai

yang ada cuma decak kagum,
salut,... meski bodo
dia berguna bagi masyarakat

so,,,,
ane bingung lagi serasa orang paling TOLOL

klo bisa dikagumi tanpa harus pinterkanapa harus pinter????

so, masih bangga dengan pendidikan tinggi???

jaman dulu it's okay!
tapi sekarang pendidikan tinggi bukan sebuah kebanggaan!!

dulu sedikit banget orang yang berpendidikan tinggi
makanya klo berpendidikan tinggi, bangganya setengah mati
itu dulu, jaman remajanya orang tua kita!!

sekarang yang patut dibanggakan bukan pendidikan yang tinggi,
tapi seberapa bermanfaatnya kita buat orang banyak.

sekarang jarang ada orang yang bermanfaat buat orang banyak

sekarang isinya cuma berlomba ngisi kantong sendiri buat anak istri
cuma berlomba mbaca buku yang banyak biar nilainya bagus.

kebanyakan sekarang,
orang berusaha untuk bermanfaat buat orang banyak,
klo dah bau tanah doank!
belagak waqaf masjid buat amal jariyah,
padahal masjid dah banyak sekarang.
mpe bingung yang mo solat milih masjidnya,
akhirnya pilih solat di rumah

klo mo amal jariyah, buka lapangan pekerjaan,
walopun dah mati, klo usaha masih jalan
amalnya masih tetep ngalirkan?
terus memberi nafkah untuk orang banyak.

lihat bill gates, om bob sadino,
apa yang dibanggakan dari mereka?

pinter? ga koq... sekolahnya pada ga tamat.

yang dibanggakan dari mereka,
betapa hebatnya menfaat yang dia berikanbuat orang lain,

see? jaman sekarang orang lebih kagum
kalo liat orang yang bisa memberikan manfaat
buat orang banyak..


HHHHHHAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!
paradigma konyol indonesia yang mpe sekarang
masih aja dipertahankan!

mah, pah, bu, pak, ayah, bunda,,,,
please,,,,
ini bukan jamanmu lagi,,,,
jangan paksa aku harus pintar,,,,
aku ga bisa klo harus dapet nilai 9 terus,,,
ga bisa klo harus ipk di atas 3 terus....
sekarang itu semua ga penting!!!!


aku pengen bermanfaat buat orang banyak!
biarin aku melakukan hal kecil yang sederhana
yang penting bermanfaat buat orang banyak!


aku ga butuh ilmu yang macem-macem.
aku butuh ilmu yang bisa dipake buat banyak orang,
meskipun aku harus mencarinya
sampai ke negeri cina!

aku ingin membahagiakanmu....
tapi apa engkau bahagia melihatku tersiksa?
aku tahu,
kalian orang tua yang sangat menyayangiku,
so please let me do what i love..
bukankah ketika aku bahagia, kalian juga bahagia?


biarkan aku menjalani hidup
dengan paradigma jamanku sekarang
bukan paradigma jamanmu dulu

bukan maksud hati sok tau,
orang tua tetap lebih berpengalaman daripada kita,

tapi pengalaman mereka adalah pengalaman jaman dulu.
sudah banyak berbeda dengan jaman sekarang.

so, ga ada alasan klo
kuliah tujuannya cuma membahagiakan orang tua.

kebalik! orang tua menguliahkanmu biar bahagia.
kalo kamu ternyata ga bahagia kuliah
berarti selama ini cuman buang
duit, tenaga, pikiran dan umur

benerkan mah? pah? ayah? bunda?

(tulisan ini saya dedikasikan buat
semua orang tua yang hebat,
yang memiliki putra putri yang hebat.
terutama orang tuaku, bapak soegeng soedirlan dan ibu ninik srie isnaeni.
i proud of u so much)

inti trilogi tulisan ane cuma satu...


kejarlah pendidikan yang miliki tujuan
untuk bekal hidup bahagia dunia akhirat.
_semoga bermanfaat.

sumber: http://tomsioranggila.blogspot.com/2011/04/paragima-kuno-menyesatkan.html

Thursday, June 9, 2011

My Team & I : Juventus

Seorang Juvedonna yang tinggal di London, Mina Rzouki adalah seorang Deputy Editor untuk Football Italiano dan penulis tentang Sepakbola Italia mencoba menceritakan pengalamannya dengan Juventus. Artikel yang sangat bagus, terlebih di saat-saat kelam seperti sekarang ini.


Mengapa Juventus?

Kata-kata tidak akan pernah bisa bercerita tentang cinta saya untuk Juventus dan penjelasan yang pas jarang bisa menggambarkan berbagai macam perasaan yang saya rasakan ketika saya mendengar atau melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Bianconeri.
Saya tumbuh sebagai Laziale. Ayah saya sangat terobsesi dengan warna birunya dan saya terobsesi dengan Perluigi Casiraghi tanpa alasan yang jelas, walaupun saya berpikir kalau ia sangatlah tampan. Walau tidak pernah mencintai mereka, saya cukup loyal dan pikiran untuk mendukung tim lain pada saat itu sangatlah gila. Tetapi kemudian saya mulai menyaksikan pertandingan Juventus. Semenjak itu tanpa tersadari saya sering membeli Calcio Italia setiap Bianconeri muncul di covernya dan ketika mereka kalah dari Borussia Dortmund di 1997, secara spontan saya menangis. Sebelum saya menyadarinya, saya berselingkuh dari Lazio dan saya jatuh cinta dengan tim yang secara perlahan bertahan di hati.
Sebagai seorang yang romantis, sangatlah sulit untuk tidak langsung merasakan tarikan gravitasi dari Juventus. Mereka bukan hanya sebuah klub sepakbola, mereka adalah institusi, cara hidup, filosofi yang dipuja semua.Bukanlah sebuah tim yang membeli kesuksesan, mereka adalah tim yang membangun para juara. Pemain berebutan untuk pergi ke Turin dan mengenakan seragam hitam putih bukan untuk uang, tetapi untuk kebanggaan. Mereka tidak pernah menjadi tim yang bermain sepakbola seksi, mereka tidak beratraksi cantik untuk mendapatkan Liga Champions atau mengoper bola secara indah. Meeka adalah sebuah tim yang dibangun dengan kerja keras dan disiplin; mereka mengajarkan kita bahwa apapun dapat digapai jika kita bersungguh-sungguh. Grinta, kesungguhan dan struktur organisasi yang membuat anda takjub, Juventus adalah sebuah klub yang dibangun diatas fondasi yang kuat dan bertradisi. Mereka mempercayai Italia, sebagai calcio bukan sepakbola, dan mendapatkan kehormatan untuk merepresentasikan negaranya dan visinya dalam sepakbola, tidak jarang menjadi tulang punggung dari Azzuri. Tidak terinfuensi sepakbola indah seperti total football atau Brazilian Samba, mereka bekerja tanpa lelah selama banyak decade untuk mempromosikan gaya Italia dan yang paling penting – mereka berhasil.
Saya menyadari mengapa banyak orang memilih untuk mendukung Milan atau Real Madrid misalnya. Tim-tim yang diisi oleh banyak pemain kelas dunia yang bermain sepakbola sensual dan dilatih oleh orang-orang yang merevolusi cara bermain indah. Tetapi saya lebih menyukai cara Juve yang menurunkan pejuang-pejuang untuk 90 menit yang tak kenal lelah bertarung demi kebanggaan Juve dan untuk legacy yang harus selalu dijaga. Bayangkanlah Miroslav Klose di timnas Jerman dan kalian akan melihat cara Bianconeri bermain di setiap pertandingan—mereka berubah menjadi pahlawan.
Saya tidak bilang kalau kita juga tidak memiliki talenta yang luar biasa. Nama-nama seperti Platini, Nedved, Boniperti dan Baggio adalah para juara yang membuat para fans di dunia terpukau. Tetapi Juventus seringkali menginvestasikan banyak waktu dalam menumbuhkan talenta muda, mengeluarkan uang lebih sedikit dari tim besar lainnya.

Tradisi adalah hal yang membuat tim saya berbeda. Pelatih bertahan untuk bertahun-tahun, pemain-pemain menjadi terbiasa untuk bermain bersama dan profit selalu didapatkan dengan pembelanjaan yang pintar. Hampir semua itu dapat kita bilang adalah jasa dari satu keluarga dan secara particular seorang pria yang paling mendekati seorang Royal yang pernah dimiliki Italia. Diluar dari kekayaannya yang luar biasa dan darah biru yang mengalir di tubuhnya, Juventus membuat hatinya luluh dengan cara yang tidak normal. Sampai hari ini saya masih tidak bisa melupakannya dan menangisi kepergiannya dari dunia ini, apalagi kalau kita melihat apa yang sudah terjadi semenjak ia pergi – Calciopoli, managemen yang buruk dan tim yang kurang membanggakan.
Walaupun bagaimana, ini adalah tim saya dan sampai kapanpun saya akan selalu setia. Juventus selalu ada semenjak saya kecil, ketika saya melewati masa-masa aneh saat remaja, awal dari kehidupan dewasa hingga sekarang saya memasuki masa-masa keemasan. Tentu saja kilau yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya sedikit meredup seiring bertambahnya umur, tetapi pertandingan seperti ketika melawan Milan mengingatkan saya bahwa Juventus masih ada dan filosofinya masih terus terlestarikan.

Pemain Favorit?
Tanpa ragu-ragu, jawabannya adalah Gaetano Scirea. Banyak yang akan angkat bicara bahwa Juventus memiliki banyak pemain yang lebih baik dari sang sweeper tetapi kalian akan kesulitan untuk memikirkan satu nama yang lebih pas mengenakan seragam Bianconeri daripada pria yang satu ini. Ia adalah contoh sempurna dari Lo Stile Juve – ia mengerti sepakbola dan menyimpan kebaikannya sepanjang karirnya.
Elegan, sangat teknikal dengan pemahaman taktik yang sangat baik, sang bek merubah posisi sweeper menjadi sebuah seni. Ia banyak digadang-gadang sebagai pemain yang paling bisa diandalkan Azzuri ketika Piala Dunia tahun 1982 dan sentuhan terukur dan kemampuan menyerangnya membantu Juve menjuarai berbagai trofi.
Tetapi jiwa kemanusiaannya lah yang mengukir namanya didalam hati saya. Ada sebuah cerita tentangnya yang membuat saya menangis seperti anak kecil. Jadi suatu waktu lalu, setelah merayakan satu kemenangan besar untuk Juventus, ia merasa bersalah ketika pagi harinya melihat beberapa kuli berjalan untuk bekerja sementara ia baru pulang setelah berpesta. Apakah masih ada pemain seperti ini? Sedihnya tidak ada lagi.
Berhati baik, rendah hati dan paling diingat karena tidak pernah sekalipun mendapatkan kartu merah, kematiannya yang mendadak menimbulkan kesedihan yang luar biasa.

Momen Favorit?
Mungkin kalian akan mengira kalau saya akan bercerita ketika Juventus menghancurkan lawannya, tetapi kemenangan menjadi hal yang lumrah sehingga momen favorit saya justru ada di aspek yang lainnya. Momen favorit saya adalah final Liga Champions tahun 1997-98 melawan Real Madrid.
Juventus ketika itu berhasil masuk final Liga Champions untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dan merupakan tim terhebat di Eropa pada saat itu. Mereka berhadapan dengan tim yang terakhir menjuarai Liga Champions tahun 1966. Bianconeri turun ke lapangan dengan tulisan “1-0” tertulis di masing-masing punggung tangan pemain dengan tinta. Foto ini menceritakan semuanya. Itu adalah juve, tim yang menang dengan skor 1-0, tim yang mempunyai mental kemenangan.

Reaksi para pemain Real Madrid ketika melihat tato itu tidak akan pernah saya lupakan. Itu memprovokasi mereka dan saya berpikir bahwa provokasi itulah yang membawa mereka menjadi juara. Mereka mengalahkan kita dengan skorline yang sama persis, 1-0 tetapi melihat Di Livio bertarung diatas lapangan dengan harapan kita akan mendapatkan kemenangan itu sangatlah menyentuh. Semua tim ingin mengalahkan Juventus dan semua berubah menjadi petarung ketika berhadapan dengan kita.

Jersey favorit?
Agak susah untuk memilih jersey mana yang terbaik yang pernah dipakai Juventus. Satu yang tak lepas dari ingatan adalah jersey Kappa berwarna Biru yang dikenakan ketika kita mengalahkan Ajax di partai final Liga Champions tahun 1995. Saya ingat dengan jelas foto Di Livio mengangkat trofi CL diatas kepalanya hanya dengan memakai pakaian dalam dan jersey birunya dan image itu akan terus terukir di kepala saya.
Hal yang paling saya suka dari jersey itu adalah bintang di masing-masing lengan, satu bintang mewakili 10 scudetti . Dan yang paling tidak saya suka adalah logo Juventus yang tidak terlalu terlihat.
Saya juga menyukai jersey pink tahun 1997 walaupun banyak orang bilang itu adalah salah satu jersey terburuk yang pernah dikenakan Juventus. Ketika Juventus pertama dibentuk, kita menggunakan jersey berwarna pink sebelum berganti warna menjadi hitam putih yang diinspirasi oleh Notts County. Jadi untuk alasan sejarah, saya sangat menyukai jersey pink itu. Itu merupakan symbol dari masa lalu dan juga terlihat sangat Italia. Liberal dan sangat fashionable jika dipakai di jalanan.


Hal Terburuk Menjadi Fans Juventus?

Tentu saja hal terburuk adalah orang-orang selalu membawa nama Calciopoli setiap membicarakan tentang Juventus. Karena hal ini semua kemenangan dan trofi yang Juve dapatkan di masa lalu seakan-akan diragukan keabsahannya karena apa yang terjadi di 2006. Sangatlah naïf dan terkadang menyebalkan.
Tetapi sebenarnya hal yang paling saya tidak sukai menjadi seorang Juventina adalah perilaku para fans Juventus secara garis besar. Berbicara dengan seorang teman saya di Sky Italia, ia bilang ia tidak bisa mentolerir betapa sinis fans Juventus di Italia. Hanya dibutuhkan 2 kekalahan berturut-turut untuk membuat para fans mengamuk dan ingin membakar stadion, memecat managemen dan mengeluh. Kesabaran tidak lagi menjadi suatu hal penting dan sepertinya ada keraguan dari para fans dengan Project yang dicanangkan managemen Juve.
Tentu saya tidak menyalahkan mereka karena saya juga merasakan apa yang mereka rasakan di beberapa tahun terakhir, tetapi kadang menyebalkan untuk selalu berpikir negatif sebagai seorang suporter. Saya menyukai bagaimana para Milanista mendukung timnya walaupun ada beberapa kekurangan dalam skuadnya dan bagaimana para Romanista membuat plan liburan mereka diantara jadwal bermain Roma. Sementara Juventini belakangan ini seperti berdiri di bebayangan menunggu untuk menyerang managemen ketika mereka membuat kesalahan.
Saya suka bagaimana ketika saya pergi menyaksikan Juventus bermain di Craven Cottage, para fans berdiri bertepuk tangan untuk Fulham. Saya ingin melihat itu lebih sering lagi, dan juga saya ingin melihat mereka mempunyai lebih banyak kepercayaan di managemen yang sekarang. Jika anda tidak punya kepercayaan, lalu dimana poinnya?

Pertandingan favorit?
Tanpa keraguan lagi kemenangan 3-1 atas Real Madrid di semifinal Champions League tahun 2003. Ketiga gol dicetak oleh 3 pemain favorit saya di beberapa tahun terakhir dengan cara yang spektakuler: Trezeguet, Del Piero dan Nedved. Ketika itu saya tinggal di Madrid dan saya menyaksikan pertandingan itu di salah satu bar terbesar yang berdedikasi untuk Real Madrid dan itu adalah pertama kalinya saya menaruh Juventus diatas keselamatan saya sendiri!
Lima menit pertama dari game itu sangatlah menentukan saat Juventus masuk ke mode menyerang dan sudah menghantui Madrid dari menit awal pertandingan. Di menit ke-11 Juventus sudah unggul terima kasih kepada poacher terbaik kita dengan bantuan dari Del Piero. Duet itu mencapai puncak kesusksesannya malam itu. Sementara semuanya seperti salah dengan Real. Cambiasso dan Casillas bisa melakukan lebih untuk menjaga gawangnya agar tidak kebobolan, Raul gagal mencetak gol di kesempatan yang sangat mudah ketika berhadapan one-on-one dengan Buffon dan tendangan bebas Figo melambung ke atas gawang ketika itu bisa saja menjadi penyama kedudukan.

Juventus mencapai puncak kemampuan mereka dan merupakan suatu tim yang dikagumi. Koordinasi yang brilliant, pergerakan yang sempurna, dan yang paling mengesankan… Del Piero mungkin mencetak salah satu gol terbaik sebelum babak pertama usai. Itu adalah Il Capitano dalam performa terbaiknya ketika ia mengalahkan dua bek Real untuk kemudian menendang bola rendah untuk mencetak gol kedua Juventus dan seluruh stadion bergemuruh. Sementara Los Galacticos mendapatkan kartu merah dan para pemainnya berselisih dengan siapa saja.
Babak kedua mulai dan Juventus masih berada di elemennya sendiri, sementara Real makin tenggelam dalam depresi. Ronaldo tidak dapat berbuat apa-apa dan Figo menendang salah satu penalti terburuk dan Buffon berhasil menyelamatkannya. Jantung saya makin berdebar-debar. Kemenangan atas tim yang terisi penuh oleh bintang-bintang sepakbola dunia ada di depan mata. Saya yakin Zidane berharap ia masih seorang Bianconero…
Montero dengan anehnya terus berada di lapangan walaupun mendapatkan banyak kartu kuning sambil melakukan ekspresi orang jahatnya. Kemudian datanglah operan itu, oh operan itu dari Zambrotta kepada Nedved yang menghajar bola tersebut untuk mencetak gol ketiga Juve. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu – mungkin saya terlalu senang hingga pingsan atau mungkin dipukul oleh seorang Madridista. Saya tidak masuk kuliah untuk beberapa hari kemudian karena takut euforia itu akan hilang. Tetapi saya ingat, dan ini membuat saya tersenyum, Lippi membuat pergantian pemain setelah gol Nedved agar kita lebih defensif (kita adalah orang Italia pada akhirnya) tetapi Juventus tetap mengontrol pertandingan. Saya cuma berharap Ferrara bermain di pertandingan itu.
Kemenangan dengan cara inilah, ketika tim bermain sebagai suatu unit, menghargai satu sama lain dan menggunakan grinta dan skill untuk meruntuhkan raksasa yang meyakini saya untuk menjadi Juventina sepanjang hidup.
Mengapa orang lain mendukung tim lain?

Sumber : http://www.thefootyblog.net/?p=2740

Follow Mina via Twitter @Minarzouki

Diterjemahkan Oleh : Reyhan M Lany.

Wednesday, May 25, 2011

Final Liga Champions 2005

Final Liga Champions 2005
25 Mei 2005
Stadion Olimpiade Kemal Ataturk, Istanbul
Wasit: Manuel Mejuto Gonzalez
Penonton: 70.024 orang

AC Milan 3-3 Liverpool
(2-3 adu penalti)
(Paolo Maldini 1', Hernan Crespo 38', 42';
Steven Gerrard 54', Vladimir Smicer 56', Xabi Alonso 60')

Milan
1- Dida
2- Cafu
3- Paolo Maldini
31- Jaap Stam
13- Alessandro Nesta
21- Andrea Pirlo
8- Gennaro Gattuso / 10- Rui Costa (112')
20- Clarence Seedorf / 27- Serginho (86')
22- Kaka
7- Andriy Shevchenko
11- Hernan Crespo / 15- Jon Dahl Tomasson (85')

Liverpool
1- Dudek
3- Steve Finnan / 16- Dietmar Hamann (46')
21- Djimi Traore
23- Jamie Carragher
4- Sami Hyypia
14- Xabi Alonso
10- Luis Garcia
6- John Arne Riise
8- Steven Gerrard
7- Harry Kewell / 11- Vladimir Smicer (23')
5- Milan Baros / 9- Djibril Cisse (85')

Dinding stadion Kemal Ataturk seperti setipis kertas. Dari kamar ganti Liverpool, sorak sorai pemain AC Milan di ruangan yang berbeda begitu jelas terdengar. Semua pemain Liverpool tertunduk lesu. Tak ada yang berani menegakkan kepala. Pada malam final Liga Champions 2004/05 itu, Milan memberikan pukulan telak kepada Liverpool. Milan mampu unggul 3-0 saat jeda. Bek veteran Paolo Maldini membuka keunggulan pada menit pertama pertandingan. Sebelum turun minum, Hernan Crespo menambahnya dengan dua gol. Awal yang sempurna.

Tak mau disetir kemurungan, Rafael Benitez menghimpun nafas dan berdiri di tengah para pemainnya. Sang manajer sadar, dia hanya punya waktu 15 menit untuk mengembalikan kepercayaan diri tim. Ketika berjalan dari bangku cadangan menuju ruang ganti, benak Benitez dipusingkan mencari-cari kalimat dalam bahasa Inggris yang tepat untuk "menghidupkan" para pemainnya. Kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya sederhana saja.

"Jangan tundukkan kepala kalian. Kita Liverpool. Kalian bermain untuk Liverpool. Jangan lupakan itu. Kalian harus tetap menegakkan kepala kalian untuk suporter. Kalian harus melakukkannya untuk mereka", serunya.

"Kalian tak pantas menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk. Kalau kita menciptakan beberapa peluang, kita berpeluang bangkit dalam pertandingan ini. Percaya lah kalian mampu melakukannya. Berikan kesempatan buat kalian sendiri untuk keluar sebagai pahlawan."

Sebelum tim keluar kamar ganti, Rafa menyusun skema formasi baru di papan tulis. Untuk menghambat Kaka, Rafa meminta Dietmar Hamann bersiap tampil menggantikan Djimi Traore. Namun, ketika diberitahu Steve Finnan mengalami cedera, Benitez memanggil kembali Traore yang sudah mencopot sepatu dan berjalan ke kamar mandi. Keputusan terakhir, Finnan keluar, Hamann masuk.

Rafa sadar, tak ada lagi ruginya mengorbankan seorang pemain bertahan. Liverpool bermain dengan tiga pemain belakang dan kapten Steven Gerrard didorong lebih ke depan. Liverpool memang harus bangkit, sekarang atau tidak sama sekali.

Inilah lima belas menit yang menentukan. Lima belas menit yang mengubah segalanya. Babak kedua menjadi milik Liverpool. Sembilan menit berjalan, Liverpool menyulut sumbu ledak stadion. Dalam rentang enam menit berikutnya, Liverpool ganti mengendalikan situasi. Steven Gerrard memberikan gol inspirasional lewat sundulan kepala menyongsong umpan John Arne Riise. Tak lama berselang, tendangan keras jarak jauh Vladimir Smicer tak dapat ditahan Dida. Belum lagi Milan menata diri, pada menit ke-60, Gerrard dijatuhkan di kotak penalti oleh Gennaro Gattuso. Penalti! Awalnya, eksekusi Xabi Alonso sempat ditahan Dida, tapi bola muntah langsung disambar Alonso.

Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan hingga 90 menit. Pertandingan diperpanjang hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun harus diselesaikan melalui babak adu penalti.

Sebelum "babak perjudian" itu dimulai, Jamie Carragher datang menghampiri kiper Jerzy Dudek. Carra menyarankan Dudek agar melakukan "sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Dudek langsung teringat rekaman video yang pernah disaksikannya. Kaki spaghetti! Saat adu penalti final Piala Champions 1984 melawan AS Roma, pendahulu Dudek, Bruce Grobbelaar, memelintir-melintir kakinya. Entah memang berpengaruh atau tidak, Grobbelaar berhasil membawa Liverpool menang dan merebut Piala Champions.

Trik yang sama dipakai Dudek ketika Andriy Shevchenko bertugas sebagai eksekutor terakhir Milan. Terbukti, trik kuno itu berhasil. Eksekusi Sheva mengarah ke tengah gawang dan dengan sebelah tangan, Dudek menahannya. Liverpool pun merajai Eropa! Jerih payah fans Liverpool yang terus menggemuruhkan dukungan untuk klub kesayangan mereka terbayar sudah!

Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook The World. Betapa tidak, final Liga Champions musim itu sangat dramatis dan membuktikan segalanya mungkin terjadi di lapangan sepakbola.

Pascafinal Istanbul, hidup tak lagi sama. Tapi, hidup juga berjalan terus. Satu per satu figur pemain heroik, seperti Harry Kewell, Milan Baros, Djibril Cisse, Luis Garcia, Dudek, dan Smicer meninggalkan Anfield dan melanjutkan karir di klub baru.

Sebagian tetap tinggal, terutama Gerrard. Sang kapten sempat disebut-sebut akan hijrah ke Chelsea musim panas 2005 itu. Tapi, Istanbul mengubah segalanya.

"Bagaimana mungkin saya pindah setelah mengalami final seperti ini?" ujar Gerrard.

Arak-arakan bus dengan atap terbuka dan kerumunan satu juta orang, 300 ribu di antaranya memadati St George's Hall, suatu hari di Mei 2005, pasti takkan pernah dilupakan Liverpudlian sepanjang masa.

Tuesday, May 17, 2011

Apakah Kobe Lebih Baik dari Jordan?

Hanya ada dua label untuk pemain dalam olahraga: juara atau gagal. Kemenangan adalah satu-satunya tolak ukur kesuksesan seorang atlit dalam olahraga dan jumlah kejuaraan yang dimenangkan atlit tersebut adalah satu-satunya statistik yang relevan dalam mengukur kemampuan seorang pemain.

Baik anda setuju ataupun tidak, memang banyak cara untuk mengukur kehebatan seorang pemain. Namun biarlah kita berasumsi bahwa anda semua setuju akan hal ini. Karena dalam sebuah olahraga, kemenangan sangatlah dihargai. Kita suka seorang pemenang.

Kita suka bila tim kita berhasil menang. Dengan berdasarkan pandangan di atas, maka tolak ukur kehebatan seorang pemain basket bisa diukur dari cincin juara yang ia dapatkan.

Jordan adalah pemain terbaik yang pernah memainkan olahraga bola basket di dunia. Seorang model yang super perfect untuk semua orang yang ingin belajar basket. Memiliki fondasi basket yang bagus, mempunya jiwa kepempimpinan, dan yang paling penting, ia menang.

Enam cincin juara didapatkan Jordan tiga kali berturut-turut di tahun 1991-1993 dan 1996-1998. Saya akan melewatkan Bill Russell sebagai pemain terhebat dengan 11 cincin juara dalam argumen ini karena dua alasan: 1) Saya tidak pernah melihat permainan Bill Russel, 2) Persaingan tim-tim di NBA pada era Russell tidak seketat sekarang.

Misalnya pemain berkulit hitam masih sedikit jumlahnya waktu itu. Aturan-aturan yang membatasi jumlah pemain hebat dalam satu tim seperti salary cap dan luxury tax belum ada. Free agency belum diciptakan. Olahraga basket belum berkembang seperti zaman sekarang dengan adanya scouting kelemahan lawan, peraturan-peraturan basket seperti garis three point, dan lain-lain.

Intinya, era Russel ketika ia meraih 11 cincin tidak bisa dikomparasi dengan era Jordan yang meraih enam cincin karena situasinya jauh berbeda.

Kobe adalah pemain yang hebat. Lima cincin juaranya tidak bisa dikesampingkan dan dipandang sebelah mata. Lima cincin juara adalah sebuah prestasi yang hebat. Namun Kobe tidak akan pernah bisa melewati Jordan walaupun ia mendapat enam cincin juara sekalipun.

Di akhir artikel ini, anda akan mengerti alasan saya mengatakan hal tersebut. Tiga cincin juara pertama Kobe diraih bersama Shaq, seorang pemain yang sangat dominan di liga NBA saat itu, bahkan lebih hebat dibanding Kobe versi muda. Shaq adalah alasan besar kenapa Kobe mendapat tiga cincin pertamanya. Tanpa Shaq saat itu, sulit buat Lakers menjadi juara.

Kobe memang adalah seorang pemain dengan kemampuan individual yang hebat. Hal itu ditunjukkannya ketika ia mencetak 81 points dalam satu pertandingan di regular season. Namun sayangnya, seiring dengan ditinggalnya Shaq, prestasi Lakers langsung merosot jauh, dan prestasi individual hebat Kobe tertutup dengan buruknya rekor Lakers di regular season saat itu.

Tanpa cincin juara, apalah artinya jika Kobe mau mencetak 100 points dalam sebuah game sekalipun. Malah Shaq lebih dulu mendapat cincin keempatnya di tahun 2006 bersama Miami Heat, setelah berpisah dengan Kobe.

Salah satu keberuntungan Kobe ketika mendapat tiga cincin pertamanya adalah: ia masuk ke NBA di usia muda [langsung bermain di NBA setelah lulus SMU], mendapatkan tim yang bagus di usia muda, dan pelatih yang sudah terbukti sukses [Phil Jackson dengan enam cincin juara sebelum bergabung dengan Lakers].

Namun Jordan juga beruntung karena di era keemasannya, Jordan tidak harus berbagi spotlight dengan Magic Johnson ataupun Larry Bird. Walaupun demikian, Jordan menghancurkan semua pemain hebat yang menghalangi jalannya menuju tangga juara, diantaranya: Isiah Thomas, Magic Johnson, Clyde Drexler, Patrick Ewing, Alonzo Mourning, Charles Barkley, Gary Payton, John Stockton, Karl Malone, Shawn Kemp, John Starks, Tim Hardaway, dan masih banyak lagi.

Cincin juara Kobe yang keempat didapat ketika tidak ada tim lain di NBA yang pantas/siap menggondol gelar. Shaq sudah tua, LeBron James dikalahkan oleh Orlando Magic yang memiliki tim lebih kuat. Celtics yang seharusnya memiliki kesempatan besar untuk mempertahankan gelar juara mereka di musim sebelumnya harus menerima kenyataan pahit karena Kevin Garnett mengalami cedera, yang membuat peluang mereka menjadi juara sirna seketika.

Di final, Orlando bukanlah sebuah tim yang siap untuk menjadi juara. Jameer Nelson yang merupakan pemain bintang Magic, harus mengalami cedera panjang dan baru bisa bermain lagi di final, namun tidak bisa menemukan performa terbaiknya. Lakers menjadi tim terkuat di tahun 2009, karena memang tidak ada lagi tim yang pantas.

Cincin juara Kobe yang kelima, ini yang menarik, didapat melalui susah payah-sampai game ke tujuh. Selama tiga kuarter, tim Kobe selalu tertinggal di game terakhir tersebut. Di menit-menit terakhir game penentu tersebut, baru akhirnya (dengan susah payah) Lakers berhasil membalikkan kedudukan dan mengalahkan Celtics.

Tapi bukan Kobe yang membalikkan kedudukan tersebut. Tim Lakers begitu kuat sehingga mereka bisa tetap menang atas Celtics walaupun Kobe tidak bermain bagus. Sama seperti kasusnya di tahun 2009, tim Lakers secara keseluruhan adalah tim yang lebih baik dari lawannya, bukan karena Kobe seorang diri bermain luar biasa.

Tapi karena Lakers punya Phil Jackson, Pau Gasol, Derek Fisher, Lamar Odom, Trevor Ariza, Ron Artest, Sasha Vujacic, Shannon Brown, Andrew Bynum, Mitch Kupchak [GM Lakers] dan Jerry Buss [owner dari Lakers]. GM Lakers berperan besar dalam mendatangkan sebuah alasan mengapa Kobe tiba-tiba berpeluang mendapatkan cincin keempat dan lima: Pau Gasol, seorang big man dengan kemampuan menyerang yang sangat luar biasa, memiliki IQ basket yang tinggi, rebound yang bisa diandalkan, defense yang lumayan, dan kemampuan passing yang sangat under-rated.

Bagaimana seandainya jika GM Memphis Chris Wallace tidak membungkus kado Gasol untuk Lakers? Kobe akan bertahan dengan tiga cincin saja. Kobe harus bersyukur punya arsitek tim seperti Mitch Kupchak dan mengalami keberuntungan dari tindakan bodoh Chris Wallace yang memberikan Gasol begitu saja.

Anyway, seandainya Kobe adalah Jordan, Celtics pasti sudah dihabisi di tahun 2008, dan Kobe sudah mendapat cincin keenamnya di tahun 2010. Jordan tidak akan membiarkan lawan menghabisinya di puncak terbesar olahraga basket. Pantang baginya untuk kalah dan apa saja pasti dilakukan Jordan agar timnya bisa menang.

Sebagai perbandingan saja, jika kita tidak menghitung musim terakhir Jordan bersama Bulls [1997-1998], shooting percentage terendah Jordan dalam karirnya sebagai pemain Bulls masih lebih tinggi dibanding shooting percentage tertinggi Kobe dalam karirnya sebagai pemain Lakers. Terlebih lagi, lima cincin juara Kobe didapatkan dengan cara yang sama sekali tidak seperti Jordan.

Tiga cincin didapatkan dimana ia bukan pemain terhebat di klubnya, satu cincin didapatkan karena timnya adalah tim yang kuat, dan cincin terakhir didapatkan bukan karena Kobe sebagai alasan utamanya. Cara Kobe mendapatkan lima cincinnya tidak sehebat dan seperti Jordan. Michael Jordan menjadi juara dengan center semacam Bill Cartwright dan Will Purdue, bahkan dengan point guard seperti BJ Armstrong di timnya.

Masalahnya cincin juara yang didapat Kobe mengikuti tren dimana seorang superstar big man dibutuhkan untuk menjadi juara. Kobe punya big man hebat seperti Robert Horry, super big man seperti Gasol, dan super duper extra superstar big man dalam diri Shaq.

Tanpa mengesampingkan peran Kobe [karena tiga cincin juara yang didapatkannya bersama Shaq adalah peran mereka berdua], peran Shaq dalam meraih juara begitu dominan, lebih dominan tepatnya. Bukan artinya Kobe seorang pemain yang tidak hebat, he is very very very good, but not great, not as great as no #23-Michael.

Jordan mendapatkan enam cincin juaranya dengan cara yang sangat luar biasa. Ia menghabisi lawan-lawannya dengan elegan. Di saat-saat kritis, tembakan Jordan lebih banyak masuk dibanding meleset. Sangking banyaknya, orang lebih mengingat tembakannya yang masuk daripada meleset di saat yang menentukan.

Di saat-saat genting, dimana timnya membutuhkan Jordan untuk menyelamatkan mereka, Bulls selalu bisa mengandalkan Jordan untuk membawa timnya menang. Tembakan-tembakan penentu kemenangan Jordan selalu datang di pentas terbesar seperti NBA Finals, di saat yang tepat. Itulah alasan yang membuat Jordan menjadi hebat.

Cerita kepahlawanannya melegenda karena ia membuat tembakan-tembakan penting di pentas terbesar, ketika semuanya dipertaruhkan. Lihat bagaimana Jordan menutup karirnya di cincin keenam [mari kita semua berpura-pura untuk melupakan karirnya di Wizards sebagai seorang pemain].

Game keenam di tahun 1998, skor 3-2 untuk Bulls, dan Jazz memiliki home court advantage di game ketujuh-bukan pertanda yang baik, namun seperti biasa di saat genting seperti ini Michael akan menampilkan sinar kebintangannya. Skor pertandingan 85-86, Bulls tertinggal dengan waktu kurang dari 20 detik, Michael malah berhasil melakukan steal terhadap Karl Malone, menggocek Bryon Rusell, dan melakukan “The Last Shot”. Game over buat Jazz. Bulls juara lagi untuk yang ke enam kalinya. Siapa bintangnya? Jordan.

Selain itu, jangan lupa bahwa big man dominan yang biasanya menjadi keharusan para tim untuk menjadi juara di NBA, tidak dibutuhkan Jordan. Jordan menjadi juara tanpa big man handal, enam kali! Mendapat satu tanpa big man saja sulit. Jordan melawan logika, Jordan adalah pahlawan utama dari timnya, dan Michael selalu menjadi alasan utama mengapa timnya menang [hal itu dibuktikan dengan enam Finals MVP]-baik itu dengan tembakan penentu kemenangan, passing ke orang yang tepat, maupun lewat defense, Michael selalu menjadi pemain terbaik di Finals, the best of the best.

Jordan selalu membuat keputusan yang tepat dan Jordan SELALU mengakhiri NBA Finals dengan indah. Ia tidak pernah kalah di partai penentu-NBA Finals. Itulah alasan mengapa Jordan akan selalu menjadi yang terbaik. Bila Kobe mendapat tujuh cincin juara pun, orang akan bilang Shaq ‘membantunya’ meraih tiga cincin dan Gasol menyumbangkan sekian cincin. Kobe mendapat cincin juara dengan bantuan pelatih Michael. Lima MVP regular season dan enam MVP Finals milik Jordan dibandingkan dengan satu MVP regular season dan dua MVP Finals milik Kobe. Lebih baik dari Jordan? Yang benar saja. LeBron saja harus meminta bantuan dari Dwyane Wade dan Chris Bosh.

Walaupun suatu saat akan ada orang yang melampaui peraihan cincin juara Jordan, jalan yang harus ditempuh pemain tersebut seperti mendaki gunung everest dengan satu tangan dan mata tertutup. Memang melampaui Jordan adalah tugas maha sulit, selain butuh keberuntungan [mendapat tim yang bagus], pemain yang ingin melewati Jordan harus meraih cincin juara lebih dari enam tanpa bantuan seorang big man yang dominan, menjadi pemain terhebat dalam timnya, membuat tembakan-tembakan penentu kemenangan di partai-partai super penting seperti NBA Finals, dan menang. Tidak akan ada lagi pengganti Jordan. Hanya ada satu Jordan. Hanya ada satu pemain terhebat. Tidak akan ada pemain lain yang bisa melampaui apa yang Jordan capai, termasuk Kobe.

Neilson Gautama
NBA Presenter