ane cuma mo menanyakan
beberapa hal yang sering sekali
orang tua katakan pada anaknya,,,
kenapa mereka sering mengatakan:
Quote:
"nak, belajar yang pinter,,, biar nanti gampang cari kerja."
sepertinya koq aneh sekali mereka ngomong gitu!
dari kalimat tadi, ada dua tujuan yang bisa kita tangkap jelas:
1. belajar biar pinter
2. gampang cari kerja
2 hal ini jelas-jelas paradigma yang dibangun kaum penjajah biar kita bisa dimanfaatkan dengan mudah.
kenapa?
1. biar PINTER,
jadi kita dididik biar pinter aja, otak kita penuh dengan pelajaran-pelajaran.
kita ga dididik jadi orang yang cerdas, penuh akal, karena penjajah takut kita justru bisa mengakali mereka.
kita ga dididik jadi orang yang kritis, tanggap, dan demokratis karena penjajah takut kita bisa memberontak seketika.
2. cari kerja,
jadi kita dididik hanya untuk mencari pekerjaan,
bukan untuk menciptakan pekerjaan.
penjajah hanya ingin kita bekerja untuk mereka, bukan untuk kita sendiri.
penjajah takut kita lebih maju dari mereka.
So, kalau yang sampai saat ini masih menggunakan paradigma itu, maaf, ANDA MASIH HIDUP DALAM MASA PENJAJAHAN.
kalau hanya untuk pintar, beli buku aja se Grame*dia, 1 minggu khatamin 1 buku. dijamin pinter.
kalau hanya nyari kerja, sampah di jalanan masih banyak tuh, nyapu di jalanan juga pekerjaan yang mulia bukan?
trus sekarang dah terlanjur begini, apa yang bisa kita lakukan??
gampang,
1. introspeksi diri, cari hal apa yang sering bikin agan lupa makan, minum, tidur, bahkan bernafas.
apakah editing video? jadilah editor profesional.
ngerjain soal-soal akuntansi? jadilah dosen or akuntan publik handal.
nggambar-nggambar sotosop or corel? jadi desain grafis aja,,,
jangan takut untuk beralih ke segala hal yang kamu sukai, ketika kamu berjuang untuk sesuatu yang kamu suka, seberat apapun tantangannya
pasti akan kamu hadapi dengan senang hati.
2. fokus, jadikan hobimu sebagai fokus profesimu.
jangan takut kalau kamu nanti ga dapet kerja, kerjaan itu bisa dateng darimana aja. ketika kamu dah profesional di bidangmu,
pekerjaanlah yang akan mencarimu.
kalau hobimu mancing, profesionalah di bidang mancing, lalu tunggulah pengusaha-pengusaha kolam pemancingan yang akan datang berkonsultasi tentang kolam ikannya
atau pengusaha peralatan mancing yang meminta anda menjadi Kepala bidang research and development.
KALAU MASIH SD, SMP gmn?
1. kalau emang tujuannya agan mo cari kerja, ntar klo mo lanjut sekolah, jangan masuk SMA, pilih aja SMK.
2. kalau tujuan agan sekolah mo jadi ilmuwan, baru silahkan masuk SMA.
3. pilih jurusan yang emang agan suka, jangan lagi berpatokan dengan patokan yang konyol bahwa klo jurusan IPA buat yang pinter, IPS buat yang bodo.
saatnya kita tahu esensi pendidikan yang kita jalani saat ini,
jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang
untuk mengejar embel-embel SBI (Sekolah berstandar Internasional),
atau goodwill suatu universitas (yang penting UI/UGM),
bukan itu esensi pendidikan.
seharusnya dunia pendidikan membuat yang berada di dalamnya
menjadi insan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
bukan untuk menambah beban hidup orang tua
atau menambah beban negara.
Cara belajar paling efektif adalah: Bekerja sambil belajar.
betapa banyak mahasiswa yang malas kalau suruh belajar?
itu karena ga ada motivasi lain untuk belajar, kecuali untuk lulus ujian.
lihat bedanya, seorang pegawai swasta yang sangat antusias
dalam mengikuti kursus brevet pajak walaupun begitu banyak
aturan pasal-pasal dan tarifnya.
mereka sangat antusias karena mereka merasa BUTUH pelajaran
itu untuk kehidupannya. kehidupan nyata-nya.
di sini kita bisa lihat, dunia pendidikan seperti memiliki dunia sendiri dan tidak peduli dengan dunia nyata yang akan dihadapi oleh almamaternya. ironis.
tapi kalau bekerja dulu sambil belajar,
mana ada perusahaan yang mau nerima pegawai
yang belum tahu apa-apa, dan baru mau belajar nanti kalau dah kerja?
hanya ada satu perusahaan yang mau nerima orang-orang kaya gitu.
yaitu perusahaanmu sendiri.
so jangan takut untuk memulai untuk membangun perusahaan sendiri.
jangan bayangkan perusahaan harus yang megah, punya kantor,
punya pegawai banyak, modal miliaran,,,,hmph,,
coba liat dulu ke kaskus tercinta ini,
awalnya bukankah kaskus ini didirikan hanya oleh 1 orang?
bang andrew...
mungkin awalnya kaskus hanya memiliki kantor di satu kosan kecil
di amrik sana, sampai akhirnya sekarang punya kantor sendiri
dan jutaan member.
mulailah dari yang kecil, lihat sekelilingmu,
disana banyak sekali peluang menanti.
dari sesuatu yang kamu mulai itu,
bersiaplah untuk menjadi pribadi pembelajar,
yang tak sadar bahwa sebenarnya anda sedang belajar keras
untuk meningkatkan kualitas diri.
nah, jadi harusnya apa donk yang dipelajari di sekolah
biar nyambung dengan dunia nyata?
buang paradigma SEKOLAH TEMPAT MENIMBA ILMU.
Sekolah seharusnya tidak hanya untuk menimba ilmu,
tapi juga membangun sikap dan prilaku siswanya.
mungkin akan lebih bijak jika sekolah SD
tidak perlu memberikan pelajaran susunan pemerintahan,
hukum dan kewarganegaraan.
cukuplah mengenalkan siapa presiden kita yang harus kita hormati,
menyanyikan lagu-lagu nasioanal, memainkan alat-alat musik tradisional.
alangkah bijaksana jika SD hanya mengajarkan
hal-hal yang nyata-nyata dibutuhkan untuk anak-anak seusianya,
mereka butuh bermain, butuh berinteraksi dengan teman-temannya.
mereka tidak membutuhkan les matematika, les bhs inggris,
dan les-les lainnya.
biarkan si anak mengutarakan kenginginannya, kesukaannya,
berikan waktu yang cukup untuk mereka melakukan hobinya...
ketika sudah mulai beranjak dewasa,
saatnya dunia pendidikan memberikan arahan
untuk menjadi pribadi yang anggun,
tanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, kerjasama,
gotong-royong, pantang menyerah,
kreatif, kritis, atraktif....
sediakan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan,
yang mereka tanyakan kepada gurunya.
pertanyaan yang mereka dapatkan sendiri dari observasi sederhana
dalam kehidupan mereka di rumah, bersama teman di lingkungannya,
ataupun di lingkungan sekolahnya,,
jadikan sekolah tempat yang menyenangkan untuk berinteraksi, mencari dan menggali ilmu. bukan menjadikan sekolah sebagai tempat untuk membuang uang, tenaga pikiran, hanya untuk mencari titel bekal mancari pekerjaan.
trus kenapa mereka juga mengatakan:
Quote:
"sudahlah,,, ga usah mikir yang macem-macem,,, yang penting kuliah, belajar, pinter, trus kerja"
tolong agan jawab sejauh yang agan ketahui,,
1. berapa banyak anak sma/smk yang melanjutkan ke perguruan tinggi? banyak.
2. berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang sampai sekarang masih menganggur? banyak.
3. berapa banyak yang mengeluhkan lulusan perguruan tinggi
tidak siap turun di dunia kerja? banyak juga.
Ya iyalah!!
jelas lulusan perguruan tinggi itu ga siap turun di dunia kerja
karena memnang ga dididik untuk jadi babu di dunia kerja.
mereka ga di didik untuk pegang komputer ngurus surat-menyurat.
mereka juga ga diajarin untuk berangkat pagi pulang petang tertib absen tiap hari.
mahasiswa di perguruan tinggi itu, diajarin tentang ilmu-ilmu yang tinggi.
abstrak ga bisa dibayangin di dunia nyata.
sebenernya bukan ga bisa di bayangin, tapi ga butuh dibayangin, karena mereka
ga punya pengalaman dan juga ga butuh bagi implementasi di dunia nyata mereka
untuk menganalogikan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diterima di kampus.
mahasiswa itu dididik untuk selalu kritis atas pernyataan dosen,
sebaliknya dunia kerja butuh bawahan yang "sendiko dawuh", siap laksanakan, atas perintah atasan.
mahasiswa itu dididik untuk siap sedia klo mau ujian aja,
sedangkan dunia kerja menuntut setiap yang kita kerjakan adalah ujian
yang menentukan nasib pekerjaan kita selanjutnya.
jadi kalau mau cari kerja, bukan di perguruan tinggi tempatnya,,,
di tempat kursus komputer,
kursus njait,
kursus bahasa,
dan kursus-kursus lainnya
yang mengasah kemampuan praktek, keterampilan,
bukan kemampuan otak.
bukan maksud ane orang kerja cuma butuh keterampilan n ga butuh otak,
orang kerja juga butuh otak,
tapi bukan otak yang isinya logaritma,
aljabar, statistika, manajemen keuangan, ekonomi makro, mikro, dsb dll....
tapi otak yang penuh akal, inspirasi, inovasi...
latihannya bukan dengan buku,
tapi dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari.
bagaimana menyiasati uang bulanan yang tiap tanggal 15 dah tinggal 5rb perak.
bagaimana langganan internetan bukan cuma buat browsing BB+17, tapi bisa buat beli BB buat gaya-gaya gitu,,,
itu yang dibutuhkan buat dunia kerja.
udah banyak orang bilang,
kalo ilmu yang kita terima di sekolah/kampus
hanya terpakai 10% saja di dunia kerja.
tapi kenapa kita masih bela-belain
mati-matian mpe setengah mati
berusaha dapet yang cuma 10% itu
dengan beratus-ratus ribu hanya untuk beli formulirnya
berjuta-juta untuk dapet topi yang ada gantungannya.
padahal itu cuman 10%!!!!
kenapa kita ga mati-matian nyari yang 90%?
katanya 90% itu EQ dan SQ,
so,,,,
apa iya berteman itu mbayar?
sejak kapan solat harus mbayar?
kenapa kita ga mati-matian nglatih
inovasi, kreatifitas, kejujuran,
apa orang jujur harus mbayar juga?
apa belajar inovasi dan kreatifitas juga harus mbayar?
bukannya inovasi dan kreatifitas yang membuat kita
berusaha untuk memperoleh segala sesuatu dengan gratis?
kenapa coba bisa gitu? konyol kan...
mencari burung gereja yang terbang tinggi,
padahal di depan mata ada merpati dalam sangkar.
perguruan tinggi itu, tempatnya orang jadi ilmuan.
dari namanya aja dah jelas.
PERGURUAN TINGGI.
PERGURUAN= tempat PERkumpulan calon-calon GURU dAN dosen.
TINGGI= ilmunya TINGGI-tinggi, jadi ga cocok buat otak ane yang ga kuat buat ilmu yang ketinggian.
so, kenapa harus ke perguruan tinggi klo tujuannya cari kerja?
jadi babu perusahaan besar dan ternama.
melatih otak setinggi-tingginya,
padahal jelas-jelas nanti yang dipakai adalah keterampilan.
mati-matian melatih anjing bersiul,
padahal yang ditakuti dari anjing adalah gonggongannya.
then.... yang bikin ane ga bisa tidur malam tadi,,,,,
kenapa mereka sering bilang gini:
Quote:
"nak, belajar yang rajin ya,,,
biar ntar klo dah lulus kuliah, pada cari kerja ke kota,,,
klo dah kerja, berkeluarga, ntar ajak bapak ibu ke sana ya,,,"
sehingga dengan seketika
yang ada di bayangan ane
hidup itu ya
sekolah - kuliah - cari kerja - nikah - bapak ibu seneng - punya anak - mati.
yah, cuma itu bayangan hidup bagi ane
tapi kenapa harus cuma itu?
kenapa jalurnya harus seperti itu???
apa ga bisa atau ga ada
jalur lain buat ane yang bodo dan miskin??
ane ga akan kuat sekolah
apalagi kuliah
yang kuliah aja banyak yang nganggur,
apalagi yang ga kuliah!
whatever lah,, yang jelas ane bingung!!! ngrasa TOLOL
apa iya hidup itu cuma buat pinter - kerja - kimpoi - mati?
apa ga lebih bermanfaat kalo..
hidup itu ga perlu diawali
dengan harus pinter....
kenapa orang harus pinter
klo ujung-ujungnya jadi pengangguran
kenapa harus pinter klo
ujung-ujungnya ga bisa
memberikan manfaat buat orang banyak
kenapa harus pinter klo
cuma buat membodohi orang lain???
pinter buat sendiri,, egois banget!!!
hah!!! TOLOL
kenapa orang ga jadi bodo aja!
bodo biar ga bisa nipu orang..
ga bisa ngomong yang tinggi-tinggi,
biar yang denger ga bingung
yang mbaca ga mumet
bodo biar gampang dimanfaatkan orang lain!
soalnya kata hadist,,
"sebaik-baiknya manusia,
adalah yang bermanfaat bagi orang lain"
hah! TOLOLnya ane,,,
trus apa iya orang kerja harus pinter?
nyapu jalanan kerja kan?
apa harus pinter?
mo kerja yang kaya apa.....
jadi boz?
emang harus pinter???
yang ane tau klo mo jadi boz tuh,,,
yang penting dihormati ma bawahan,,,
boz tapi isinya dicela terus ma bawahan,
sok pinter!
itu yang namanya boz???
biar dihormati ga harus pinter,,,,
orang dihormati tuh klo dia juga menghormati,,,
dia cerdas, penuh kreatifitas, inovasi,
apapun masalah yang ada dari bawahan,
bisa dia pecahkan dengan bahasa sederhana,
ga pake bahasa yang tinggi-tinggi,,
itu bukan bahasa bawahan,,,
kenapa orang klo denger kata kerja
pasti ingetnya karyawan/ boz perusahaan
haahh!!!!
itu satu dari ribuan macam pekerjaan!!!
ane bingung,
Nabi Muhammad nyontohinnya
klo ga jadi PEMIMPIN AGAMA, PEDAGANG YANG JUJUR, ya PEMIMPIN NEGARA.
tapi koq cita-cita ane jadi buruh?
yang namanya boz juga buruh perusahaan kan???
trus sebenernya ane hidup itu nyontoh siapa?????????
kenapa ane ga pengen jadi ALIM ULAMA aja?
kenapa ane ga pengen jadi PRESIDEN aja?
hah,,, apalagi jadi PEDAGANG yang jujur,,,, modal aja ga ada,,,,
f*ck klo bilang modal ga ada!!! punya otak kanan, penuh akal,inovasi, kreatifitas, masa itu bukan modal? punya kaki dan tangan buat banting tulang, masa itu bukan modal?
duit??? duit tuh bukan modal! duit tuh yang dicari!!! klo duit dah ada, buat apa dijadiin modal! pake aja buat foya-foya aja!! susah susah amat....
kenapa sih
hidup cuma buat sendiri?
mo sepinter apa juga,
klo cuma buat sendiri percuma!
sekilas pasti orang kagum
klo liat orang kuliah di luar negeri
tapi apa iya tetep kagum,
klo ternyata dia kerja di luar negeri
gendutin perut sendiri
perut anak istrinya doank
yang ada tinggal caci maki!
pinter tapi ga berguna buat masyarakat!
sekilas, pasti ngerasa kasian
liat orang cuma ijasah smk
tapi apa masih pantas kasihan?
ternyata dia dah punya ratusan pegawai
yang ada cuma decak kagum,
salut,... meski bodo
dia berguna bagi masyarakat
so,,,,
ane bingung lagi serasa orang paling TOLOL
klo bisa dikagumi tanpa harus pinterkanapa harus pinter????
so, masih bangga dengan pendidikan tinggi???
jaman dulu it's okay!
tapi sekarang pendidikan tinggi bukan sebuah kebanggaan!!
dulu sedikit banget orang yang berpendidikan tinggi
makanya klo berpendidikan tinggi, bangganya setengah mati
itu dulu, jaman remajanya orang tua kita!!
sekarang yang patut dibanggakan bukan pendidikan yang tinggi,
tapi seberapa bermanfaatnya kita buat orang banyak.
sekarang jarang ada orang yang bermanfaat buat orang banyak
sekarang isinya cuma berlomba ngisi kantong sendiri buat anak istri
cuma berlomba mbaca buku yang banyak biar nilainya bagus.
kebanyakan sekarang,
orang berusaha untuk bermanfaat buat orang banyak,
klo dah bau tanah doank!
belagak waqaf masjid buat amal jariyah,
padahal masjid dah banyak sekarang.
mpe bingung yang mo solat milih masjidnya,
akhirnya pilih solat di rumah
klo mo amal jariyah, buka lapangan pekerjaan,
walopun dah mati, klo usaha masih jalan
amalnya masih tetep ngalirkan?
terus memberi nafkah untuk orang banyak.
lihat bill gates, om bob sadino,
apa yang dibanggakan dari mereka?
pinter? ga koq... sekolahnya pada ga tamat.
yang dibanggakan dari mereka,
betapa hebatnya menfaat yang dia berikanbuat orang lain,
see? jaman sekarang orang lebih kagum
kalo liat orang yang bisa memberikan manfaat
buat orang banyak..
HHHHHHAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!
paradigma konyol indonesia yang mpe sekarang
masih aja dipertahankan!
mah, pah, bu, pak, ayah, bunda,,,,
please,,,,
ini bukan jamanmu lagi,,,,
jangan paksa aku harus pintar,,,,
aku ga bisa klo harus dapet nilai 9 terus,,,
ga bisa klo harus ipk di atas 3 terus....
sekarang itu semua ga penting!!!!
aku pengen bermanfaat buat orang banyak!
biarin aku melakukan hal kecil yang sederhana
yang penting bermanfaat buat orang banyak!
aku ga butuh ilmu yang macem-macem.
aku butuh ilmu yang bisa dipake buat banyak orang,
meskipun aku harus mencarinya
sampai ke negeri cina!
aku ingin membahagiakanmu....
tapi apa engkau bahagia melihatku tersiksa?
aku tahu,
kalian orang tua yang sangat menyayangiku,
so please let me do what i love..
bukankah ketika aku bahagia, kalian juga bahagia?
biarkan aku menjalani hidup
dengan paradigma jamanku sekarang
bukan paradigma jamanmu dulu
bukan maksud hati sok tau,
orang tua tetap lebih berpengalaman daripada kita,
tapi pengalaman mereka adalah pengalaman jaman dulu.
sudah banyak berbeda dengan jaman sekarang.
so, ga ada alasan klo
kuliah tujuannya cuma membahagiakan orang tua.
kebalik! orang tua menguliahkanmu biar bahagia.
kalo kamu ternyata ga bahagia kuliah
berarti selama ini cuman buang
duit, tenaga, pikiran dan umur
benerkan mah? pah? ayah? bunda?
(tulisan ini saya dedikasikan buat
semua orang tua yang hebat,
yang memiliki putra putri yang hebat.
terutama orang tuaku, bapak soegeng soedirlan dan ibu ninik srie isnaeni.
i proud of u so much)
inti trilogi tulisan ane cuma satu...
kejarlah pendidikan yang miliki tujuan
untuk bekal hidup bahagia dunia akhirat.
_semoga bermanfaat.
sumber: http://tomsioranggila.blogspot.com/2011/04/paragima-kuno-menyesatkan.html
Sunday, June 12, 2011
Thursday, June 9, 2011
My Team & I : Juventus
Seorang Juvedonna yang tinggal di London, Mina Rzouki adalah seorang Deputy Editor untuk Football Italiano dan penulis tentang Sepakbola Italia mencoba menceritakan pengalamannya dengan Juventus. Artikel yang sangat bagus, terlebih di saat-saat kelam seperti sekarang ini.

Mengapa Juventus?
Kata-kata tidak akan pernah bisa bercerita tentang cinta saya untuk Juventus dan penjelasan yang pas jarang bisa menggambarkan berbagai macam perasaan yang saya rasakan ketika saya mendengar atau melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Bianconeri.
Saya tumbuh sebagai Laziale. Ayah saya sangat terobsesi dengan warna birunya dan saya terobsesi dengan Perluigi Casiraghi tanpa alasan yang jelas, walaupun saya berpikir kalau ia sangatlah tampan. Walau tidak pernah mencintai mereka, saya cukup loyal dan pikiran untuk mendukung tim lain pada saat itu sangatlah gila. Tetapi kemudian saya mulai menyaksikan pertandingan Juventus. Semenjak itu tanpa tersadari saya sering membeli Calcio Italia setiap Bianconeri muncul di covernya dan ketika mereka kalah dari Borussia Dortmund di 1997, secara spontan saya menangis. Sebelum saya menyadarinya, saya berselingkuh dari Lazio dan saya jatuh cinta dengan tim yang secara perlahan bertahan di hati.
Sebagai seorang yang romantis, sangatlah sulit untuk tidak langsung merasakan tarikan gravitasi dari Juventus. Mereka bukan hanya sebuah klub sepakbola, mereka adalah institusi, cara hidup, filosofi yang dipuja semua.Bukanlah sebuah tim yang membeli kesuksesan, mereka adalah tim yang membangun para juara. Pemain berebutan untuk pergi ke Turin dan mengenakan seragam hitam putih bukan untuk uang, tetapi untuk kebanggaan. Mereka tidak pernah menjadi tim yang bermain sepakbola seksi, mereka tidak beratraksi cantik untuk mendapatkan Liga Champions atau mengoper bola secara indah. Meeka adalah sebuah tim yang dibangun dengan kerja keras dan disiplin; mereka mengajarkan kita bahwa apapun dapat digapai jika kita bersungguh-sungguh. Grinta, kesungguhan dan struktur organisasi yang membuat anda takjub, Juventus adalah sebuah klub yang dibangun diatas fondasi yang kuat dan bertradisi. Mereka mempercayai Italia, sebagai calcio bukan sepakbola, dan mendapatkan kehormatan untuk merepresentasikan negaranya dan visinya dalam sepakbola, tidak jarang menjadi tulang punggung dari Azzuri. Tidak terinfuensi sepakbola indah seperti total football atau Brazilian Samba, mereka bekerja tanpa lelah selama banyak decade untuk mempromosikan gaya Italia dan yang paling penting – mereka berhasil.
Saya menyadari mengapa banyak orang memilih untuk mendukung Milan atau Real Madrid misalnya. Tim-tim yang diisi oleh banyak pemain kelas dunia yang bermain sepakbola sensual dan dilatih oleh orang-orang yang merevolusi cara bermain indah. Tetapi saya lebih menyukai cara Juve yang menurunkan pejuang-pejuang untuk 90 menit yang tak kenal lelah bertarung demi kebanggaan Juve dan untuk legacy yang harus selalu dijaga. Bayangkanlah Miroslav Klose di timnas Jerman dan kalian akan melihat cara Bianconeri bermain di setiap pertandingan—mereka berubah menjadi pahlawan.
Saya tidak bilang kalau kita juga tidak memiliki talenta yang luar biasa. Nama-nama seperti Platini, Nedved, Boniperti dan Baggio adalah para juara yang membuat para fans di dunia terpukau. Tetapi Juventus seringkali menginvestasikan banyak waktu dalam menumbuhkan talenta muda, mengeluarkan uang lebih sedikit dari tim besar lainnya.
Tradisi adalah hal yang membuat tim saya berbeda. Pelatih bertahan untuk bertahun-tahun, pemain-pemain menjadi terbiasa untuk bermain bersama dan profit selalu didapatkan dengan pembelanjaan yang pintar. Hampir semua itu dapat kita bilang adalah jasa dari satu keluarga dan secara particular seorang pria yang paling mendekati seorang Royal yang pernah dimiliki Italia. Diluar dari kekayaannya yang luar biasa dan darah biru yang mengalir di tubuhnya, Juventus membuat hatinya luluh dengan cara yang tidak normal. Sampai hari ini saya masih tidak bisa melupakannya dan menangisi kepergiannya dari dunia ini, apalagi kalau kita melihat apa yang sudah terjadi semenjak ia pergi – Calciopoli, managemen yang buruk dan tim yang kurang membanggakan.
Walaupun bagaimana, ini adalah tim saya dan sampai kapanpun saya akan selalu setia. Juventus selalu ada semenjak saya kecil, ketika saya melewati masa-masa aneh saat remaja, awal dari kehidupan dewasa hingga sekarang saya memasuki masa-masa keemasan. Tentu saja kilau yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya sedikit meredup seiring bertambahnya umur, tetapi pertandingan seperti ketika melawan Milan mengingatkan saya bahwa Juventus masih ada dan filosofinya masih terus terlestarikan.
Pemain Favorit?
Tanpa ragu-ragu, jawabannya adalah Gaetano Scirea. Banyak yang akan angkat bicara bahwa Juventus memiliki banyak pemain yang lebih baik dari sang sweeper tetapi kalian akan kesulitan untuk memikirkan satu nama yang lebih pas mengenakan seragam Bianconeri daripada pria yang satu ini. Ia adalah contoh sempurna dari Lo Stile Juve – ia mengerti sepakbola dan menyimpan kebaikannya sepanjang karirnya.
Elegan, sangat teknikal dengan pemahaman taktik yang sangat baik, sang bek merubah posisi sweeper menjadi sebuah seni. Ia banyak digadang-gadang sebagai pemain yang paling bisa diandalkan Azzuri ketika Piala Dunia tahun 1982 dan sentuhan terukur dan kemampuan menyerangnya membantu Juve menjuarai berbagai trofi.
Tetapi jiwa kemanusiaannya lah yang mengukir namanya didalam hati saya. Ada sebuah cerita tentangnya yang membuat saya menangis seperti anak kecil. Jadi suatu waktu lalu, setelah merayakan satu kemenangan besar untuk Juventus, ia merasa bersalah ketika pagi harinya melihat beberapa kuli berjalan untuk bekerja sementara ia baru pulang setelah berpesta. Apakah masih ada pemain seperti ini? Sedihnya tidak ada lagi.
Berhati baik, rendah hati dan paling diingat karena tidak pernah sekalipun mendapatkan kartu merah, kematiannya yang mendadak menimbulkan kesedihan yang luar biasa.

Momen Favorit?
Mungkin kalian akan mengira kalau saya akan bercerita ketika Juventus menghancurkan lawannya, tetapi kemenangan menjadi hal yang lumrah sehingga momen favorit saya justru ada di aspek yang lainnya. Momen favorit saya adalah final Liga Champions tahun 1997-98 melawan Real Madrid.
Juventus ketika itu berhasil masuk final Liga Champions untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dan merupakan tim terhebat di Eropa pada saat itu. Mereka berhadapan dengan tim yang terakhir menjuarai Liga Champions tahun 1966. Bianconeri turun ke lapangan dengan tulisan “1-0” tertulis di masing-masing punggung tangan pemain dengan tinta. Foto ini menceritakan semuanya. Itu adalah juve, tim yang menang dengan skor 1-0, tim yang mempunyai mental kemenangan.

Reaksi para pemain Real Madrid ketika melihat tato itu tidak akan pernah saya lupakan. Itu memprovokasi mereka dan saya berpikir bahwa provokasi itulah yang membawa mereka menjadi juara. Mereka mengalahkan kita dengan skorline yang sama persis, 1-0 tetapi melihat Di Livio bertarung diatas lapangan dengan harapan kita akan mendapatkan kemenangan itu sangatlah menyentuh. Semua tim ingin mengalahkan Juventus dan semua berubah menjadi petarung ketika berhadapan dengan kita.
Jersey favorit?
Agak susah untuk memilih jersey mana yang terbaik yang pernah dipakai Juventus. Satu yang tak lepas dari ingatan adalah jersey Kappa berwarna Biru yang dikenakan ketika kita mengalahkan Ajax di partai final Liga Champions tahun 1995. Saya ingat dengan jelas foto Di Livio mengangkat trofi CL diatas kepalanya hanya dengan memakai pakaian dalam dan jersey birunya dan image itu akan terus terukir di kepala saya.
Hal yang paling saya suka dari jersey itu adalah bintang di masing-masing lengan, satu bintang mewakili 10 scudetti . Dan yang paling tidak saya suka adalah logo Juventus yang tidak terlalu terlihat.
Saya juga menyukai jersey pink tahun 1997 walaupun banyak orang bilang itu adalah salah satu jersey terburuk yang pernah dikenakan Juventus. Ketika Juventus pertama dibentuk, kita menggunakan jersey berwarna pink sebelum berganti warna menjadi hitam putih yang diinspirasi oleh Notts County. Jadi untuk alasan sejarah, saya sangat menyukai jersey pink itu. Itu merupakan symbol dari masa lalu dan juga terlihat sangat Italia. Liberal dan sangat fashionable jika dipakai di jalanan.

Hal Terburuk Menjadi Fans Juventus?
Tentu saja hal terburuk adalah orang-orang selalu membawa nama Calciopoli setiap membicarakan tentang Juventus. Karena hal ini semua kemenangan dan trofi yang Juve dapatkan di masa lalu seakan-akan diragukan keabsahannya karena apa yang terjadi di 2006. Sangatlah naïf dan terkadang menyebalkan.
Tetapi sebenarnya hal yang paling saya tidak sukai menjadi seorang Juventina adalah perilaku para fans Juventus secara garis besar. Berbicara dengan seorang teman saya di Sky Italia, ia bilang ia tidak bisa mentolerir betapa sinis fans Juventus di Italia. Hanya dibutuhkan 2 kekalahan berturut-turut untuk membuat para fans mengamuk dan ingin membakar stadion, memecat managemen dan mengeluh. Kesabaran tidak lagi menjadi suatu hal penting dan sepertinya ada keraguan dari para fans dengan Project yang dicanangkan managemen Juve.
Tentu saya tidak menyalahkan mereka karena saya juga merasakan apa yang mereka rasakan di beberapa tahun terakhir, tetapi kadang menyebalkan untuk selalu berpikir negatif sebagai seorang suporter. Saya menyukai bagaimana para Milanista mendukung timnya walaupun ada beberapa kekurangan dalam skuadnya dan bagaimana para Romanista membuat plan liburan mereka diantara jadwal bermain Roma. Sementara Juventini belakangan ini seperti berdiri di bebayangan menunggu untuk menyerang managemen ketika mereka membuat kesalahan.
Saya suka bagaimana ketika saya pergi menyaksikan Juventus bermain di Craven Cottage, para fans berdiri bertepuk tangan untuk Fulham. Saya ingin melihat itu lebih sering lagi, dan juga saya ingin melihat mereka mempunyai lebih banyak kepercayaan di managemen yang sekarang. Jika anda tidak punya kepercayaan, lalu dimana poinnya?
Pertandingan favorit?
Tanpa keraguan lagi kemenangan 3-1 atas Real Madrid di semifinal Champions League tahun 2003. Ketiga gol dicetak oleh 3 pemain favorit saya di beberapa tahun terakhir dengan cara yang spektakuler: Trezeguet, Del Piero dan Nedved. Ketika itu saya tinggal di Madrid dan saya menyaksikan pertandingan itu di salah satu bar terbesar yang berdedikasi untuk Real Madrid dan itu adalah pertama kalinya saya menaruh Juventus diatas keselamatan saya sendiri!
Lima menit pertama dari game itu sangatlah menentukan saat Juventus masuk ke mode menyerang dan sudah menghantui Madrid dari menit awal pertandingan. Di menit ke-11 Juventus sudah unggul terima kasih kepada poacher terbaik kita dengan bantuan dari Del Piero. Duet itu mencapai puncak kesusksesannya malam itu. Sementara semuanya seperti salah dengan Real. Cambiasso dan Casillas bisa melakukan lebih untuk menjaga gawangnya agar tidak kebobolan, Raul gagal mencetak gol di kesempatan yang sangat mudah ketika berhadapan one-on-one dengan Buffon dan tendangan bebas Figo melambung ke atas gawang ketika itu bisa saja menjadi penyama kedudukan.
Juventus mencapai puncak kemampuan mereka dan merupakan suatu tim yang dikagumi. Koordinasi yang brilliant, pergerakan yang sempurna, dan yang paling mengesankan… Del Piero mungkin mencetak salah satu gol terbaik sebelum babak pertama usai. Itu adalah Il Capitano dalam performa terbaiknya ketika ia mengalahkan dua bek Real untuk kemudian menendang bola rendah untuk mencetak gol kedua Juventus dan seluruh stadion bergemuruh. Sementara Los Galacticos mendapatkan kartu merah dan para pemainnya berselisih dengan siapa saja.
Babak kedua mulai dan Juventus masih berada di elemennya sendiri, sementara Real makin tenggelam dalam depresi. Ronaldo tidak dapat berbuat apa-apa dan Figo menendang salah satu penalti terburuk dan Buffon berhasil menyelamatkannya. Jantung saya makin berdebar-debar. Kemenangan atas tim yang terisi penuh oleh bintang-bintang sepakbola dunia ada di depan mata. Saya yakin Zidane berharap ia masih seorang Bianconero…
Montero dengan anehnya terus berada di lapangan walaupun mendapatkan banyak kartu kuning sambil melakukan ekspresi orang jahatnya. Kemudian datanglah operan itu, oh operan itu dari Zambrotta kepada Nedved yang menghajar bola tersebut untuk mencetak gol ketiga Juve. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu – mungkin saya terlalu senang hingga pingsan atau mungkin dipukul oleh seorang Madridista. Saya tidak masuk kuliah untuk beberapa hari kemudian karena takut euforia itu akan hilang. Tetapi saya ingat, dan ini membuat saya tersenyum, Lippi membuat pergantian pemain setelah gol Nedved agar kita lebih defensif (kita adalah orang Italia pada akhirnya) tetapi Juventus tetap mengontrol pertandingan. Saya cuma berharap Ferrara bermain di pertandingan itu.
Kemenangan dengan cara inilah, ketika tim bermain sebagai suatu unit, menghargai satu sama lain dan menggunakan grinta dan skill untuk meruntuhkan raksasa yang meyakini saya untuk menjadi Juventina sepanjang hidup.
Mengapa orang lain mendukung tim lain?
Sumber : http://www.thefootyblog.net/?p=2740
Follow Mina via Twitter @Minarzouki
Diterjemahkan Oleh : Reyhan M Lany.
Mengapa Juventus?
Kata-kata tidak akan pernah bisa bercerita tentang cinta saya untuk Juventus dan penjelasan yang pas jarang bisa menggambarkan berbagai macam perasaan yang saya rasakan ketika saya mendengar atau melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Bianconeri.
Saya tumbuh sebagai Laziale. Ayah saya sangat terobsesi dengan warna birunya dan saya terobsesi dengan Perluigi Casiraghi tanpa alasan yang jelas, walaupun saya berpikir kalau ia sangatlah tampan. Walau tidak pernah mencintai mereka, saya cukup loyal dan pikiran untuk mendukung tim lain pada saat itu sangatlah gila. Tetapi kemudian saya mulai menyaksikan pertandingan Juventus. Semenjak itu tanpa tersadari saya sering membeli Calcio Italia setiap Bianconeri muncul di covernya dan ketika mereka kalah dari Borussia Dortmund di 1997, secara spontan saya menangis. Sebelum saya menyadarinya, saya berselingkuh dari Lazio dan saya jatuh cinta dengan tim yang secara perlahan bertahan di hati.
Sebagai seorang yang romantis, sangatlah sulit untuk tidak langsung merasakan tarikan gravitasi dari Juventus. Mereka bukan hanya sebuah klub sepakbola, mereka adalah institusi, cara hidup, filosofi yang dipuja semua.Bukanlah sebuah tim yang membeli kesuksesan, mereka adalah tim yang membangun para juara. Pemain berebutan untuk pergi ke Turin dan mengenakan seragam hitam putih bukan untuk uang, tetapi untuk kebanggaan. Mereka tidak pernah menjadi tim yang bermain sepakbola seksi, mereka tidak beratraksi cantik untuk mendapatkan Liga Champions atau mengoper bola secara indah. Meeka adalah sebuah tim yang dibangun dengan kerja keras dan disiplin; mereka mengajarkan kita bahwa apapun dapat digapai jika kita bersungguh-sungguh. Grinta, kesungguhan dan struktur organisasi yang membuat anda takjub, Juventus adalah sebuah klub yang dibangun diatas fondasi yang kuat dan bertradisi. Mereka mempercayai Italia, sebagai calcio bukan sepakbola, dan mendapatkan kehormatan untuk merepresentasikan negaranya dan visinya dalam sepakbola, tidak jarang menjadi tulang punggung dari Azzuri. Tidak terinfuensi sepakbola indah seperti total football atau Brazilian Samba, mereka bekerja tanpa lelah selama banyak decade untuk mempromosikan gaya Italia dan yang paling penting – mereka berhasil.
Saya menyadari mengapa banyak orang memilih untuk mendukung Milan atau Real Madrid misalnya. Tim-tim yang diisi oleh banyak pemain kelas dunia yang bermain sepakbola sensual dan dilatih oleh orang-orang yang merevolusi cara bermain indah. Tetapi saya lebih menyukai cara Juve yang menurunkan pejuang-pejuang untuk 90 menit yang tak kenal lelah bertarung demi kebanggaan Juve dan untuk legacy yang harus selalu dijaga. Bayangkanlah Miroslav Klose di timnas Jerman dan kalian akan melihat cara Bianconeri bermain di setiap pertandingan—mereka berubah menjadi pahlawan.
Saya tidak bilang kalau kita juga tidak memiliki talenta yang luar biasa. Nama-nama seperti Platini, Nedved, Boniperti dan Baggio adalah para juara yang membuat para fans di dunia terpukau. Tetapi Juventus seringkali menginvestasikan banyak waktu dalam menumbuhkan talenta muda, mengeluarkan uang lebih sedikit dari tim besar lainnya.
Tradisi adalah hal yang membuat tim saya berbeda. Pelatih bertahan untuk bertahun-tahun, pemain-pemain menjadi terbiasa untuk bermain bersama dan profit selalu didapatkan dengan pembelanjaan yang pintar. Hampir semua itu dapat kita bilang adalah jasa dari satu keluarga dan secara particular seorang pria yang paling mendekati seorang Royal yang pernah dimiliki Italia. Diluar dari kekayaannya yang luar biasa dan darah biru yang mengalir di tubuhnya, Juventus membuat hatinya luluh dengan cara yang tidak normal. Sampai hari ini saya masih tidak bisa melupakannya dan menangisi kepergiannya dari dunia ini, apalagi kalau kita melihat apa yang sudah terjadi semenjak ia pergi – Calciopoli, managemen yang buruk dan tim yang kurang membanggakan.
Walaupun bagaimana, ini adalah tim saya dan sampai kapanpun saya akan selalu setia. Juventus selalu ada semenjak saya kecil, ketika saya melewati masa-masa aneh saat remaja, awal dari kehidupan dewasa hingga sekarang saya memasuki masa-masa keemasan. Tentu saja kilau yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya sedikit meredup seiring bertambahnya umur, tetapi pertandingan seperti ketika melawan Milan mengingatkan saya bahwa Juventus masih ada dan filosofinya masih terus terlestarikan.
Pemain Favorit?
Tanpa ragu-ragu, jawabannya adalah Gaetano Scirea. Banyak yang akan angkat bicara bahwa Juventus memiliki banyak pemain yang lebih baik dari sang sweeper tetapi kalian akan kesulitan untuk memikirkan satu nama yang lebih pas mengenakan seragam Bianconeri daripada pria yang satu ini. Ia adalah contoh sempurna dari Lo Stile Juve – ia mengerti sepakbola dan menyimpan kebaikannya sepanjang karirnya.
Elegan, sangat teknikal dengan pemahaman taktik yang sangat baik, sang bek merubah posisi sweeper menjadi sebuah seni. Ia banyak digadang-gadang sebagai pemain yang paling bisa diandalkan Azzuri ketika Piala Dunia tahun 1982 dan sentuhan terukur dan kemampuan menyerangnya membantu Juve menjuarai berbagai trofi.
Tetapi jiwa kemanusiaannya lah yang mengukir namanya didalam hati saya. Ada sebuah cerita tentangnya yang membuat saya menangis seperti anak kecil. Jadi suatu waktu lalu, setelah merayakan satu kemenangan besar untuk Juventus, ia merasa bersalah ketika pagi harinya melihat beberapa kuli berjalan untuk bekerja sementara ia baru pulang setelah berpesta. Apakah masih ada pemain seperti ini? Sedihnya tidak ada lagi.
Berhati baik, rendah hati dan paling diingat karena tidak pernah sekalipun mendapatkan kartu merah, kematiannya yang mendadak menimbulkan kesedihan yang luar biasa.
Momen Favorit?
Mungkin kalian akan mengira kalau saya akan bercerita ketika Juventus menghancurkan lawannya, tetapi kemenangan menjadi hal yang lumrah sehingga momen favorit saya justru ada di aspek yang lainnya. Momen favorit saya adalah final Liga Champions tahun 1997-98 melawan Real Madrid.
Juventus ketika itu berhasil masuk final Liga Champions untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dan merupakan tim terhebat di Eropa pada saat itu. Mereka berhadapan dengan tim yang terakhir menjuarai Liga Champions tahun 1966. Bianconeri turun ke lapangan dengan tulisan “1-0” tertulis di masing-masing punggung tangan pemain dengan tinta. Foto ini menceritakan semuanya. Itu adalah juve, tim yang menang dengan skor 1-0, tim yang mempunyai mental kemenangan.
Reaksi para pemain Real Madrid ketika melihat tato itu tidak akan pernah saya lupakan. Itu memprovokasi mereka dan saya berpikir bahwa provokasi itulah yang membawa mereka menjadi juara. Mereka mengalahkan kita dengan skorline yang sama persis, 1-0 tetapi melihat Di Livio bertarung diatas lapangan dengan harapan kita akan mendapatkan kemenangan itu sangatlah menyentuh. Semua tim ingin mengalahkan Juventus dan semua berubah menjadi petarung ketika berhadapan dengan kita.
Jersey favorit?
Agak susah untuk memilih jersey mana yang terbaik yang pernah dipakai Juventus. Satu yang tak lepas dari ingatan adalah jersey Kappa berwarna Biru yang dikenakan ketika kita mengalahkan Ajax di partai final Liga Champions tahun 1995. Saya ingat dengan jelas foto Di Livio mengangkat trofi CL diatas kepalanya hanya dengan memakai pakaian dalam dan jersey birunya dan image itu akan terus terukir di kepala saya.
Hal yang paling saya suka dari jersey itu adalah bintang di masing-masing lengan, satu bintang mewakili 10 scudetti . Dan yang paling tidak saya suka adalah logo Juventus yang tidak terlalu terlihat.
Saya juga menyukai jersey pink tahun 1997 walaupun banyak orang bilang itu adalah salah satu jersey terburuk yang pernah dikenakan Juventus. Ketika Juventus pertama dibentuk, kita menggunakan jersey berwarna pink sebelum berganti warna menjadi hitam putih yang diinspirasi oleh Notts County. Jadi untuk alasan sejarah, saya sangat menyukai jersey pink itu. Itu merupakan symbol dari masa lalu dan juga terlihat sangat Italia. Liberal dan sangat fashionable jika dipakai di jalanan.
Hal Terburuk Menjadi Fans Juventus?
Tentu saja hal terburuk adalah orang-orang selalu membawa nama Calciopoli setiap membicarakan tentang Juventus. Karena hal ini semua kemenangan dan trofi yang Juve dapatkan di masa lalu seakan-akan diragukan keabsahannya karena apa yang terjadi di 2006. Sangatlah naïf dan terkadang menyebalkan.
Tetapi sebenarnya hal yang paling saya tidak sukai menjadi seorang Juventina adalah perilaku para fans Juventus secara garis besar. Berbicara dengan seorang teman saya di Sky Italia, ia bilang ia tidak bisa mentolerir betapa sinis fans Juventus di Italia. Hanya dibutuhkan 2 kekalahan berturut-turut untuk membuat para fans mengamuk dan ingin membakar stadion, memecat managemen dan mengeluh. Kesabaran tidak lagi menjadi suatu hal penting dan sepertinya ada keraguan dari para fans dengan Project yang dicanangkan managemen Juve.
Tentu saya tidak menyalahkan mereka karena saya juga merasakan apa yang mereka rasakan di beberapa tahun terakhir, tetapi kadang menyebalkan untuk selalu berpikir negatif sebagai seorang suporter. Saya menyukai bagaimana para Milanista mendukung timnya walaupun ada beberapa kekurangan dalam skuadnya dan bagaimana para Romanista membuat plan liburan mereka diantara jadwal bermain Roma. Sementara Juventini belakangan ini seperti berdiri di bebayangan menunggu untuk menyerang managemen ketika mereka membuat kesalahan.
Saya suka bagaimana ketika saya pergi menyaksikan Juventus bermain di Craven Cottage, para fans berdiri bertepuk tangan untuk Fulham. Saya ingin melihat itu lebih sering lagi, dan juga saya ingin melihat mereka mempunyai lebih banyak kepercayaan di managemen yang sekarang. Jika anda tidak punya kepercayaan, lalu dimana poinnya?
Pertandingan favorit?
Tanpa keraguan lagi kemenangan 3-1 atas Real Madrid di semifinal Champions League tahun 2003. Ketiga gol dicetak oleh 3 pemain favorit saya di beberapa tahun terakhir dengan cara yang spektakuler: Trezeguet, Del Piero dan Nedved. Ketika itu saya tinggal di Madrid dan saya menyaksikan pertandingan itu di salah satu bar terbesar yang berdedikasi untuk Real Madrid dan itu adalah pertama kalinya saya menaruh Juventus diatas keselamatan saya sendiri!
Lima menit pertama dari game itu sangatlah menentukan saat Juventus masuk ke mode menyerang dan sudah menghantui Madrid dari menit awal pertandingan. Di menit ke-11 Juventus sudah unggul terima kasih kepada poacher terbaik kita dengan bantuan dari Del Piero. Duet itu mencapai puncak kesusksesannya malam itu. Sementara semuanya seperti salah dengan Real. Cambiasso dan Casillas bisa melakukan lebih untuk menjaga gawangnya agar tidak kebobolan, Raul gagal mencetak gol di kesempatan yang sangat mudah ketika berhadapan one-on-one dengan Buffon dan tendangan bebas Figo melambung ke atas gawang ketika itu bisa saja menjadi penyama kedudukan.
Juventus mencapai puncak kemampuan mereka dan merupakan suatu tim yang dikagumi. Koordinasi yang brilliant, pergerakan yang sempurna, dan yang paling mengesankan… Del Piero mungkin mencetak salah satu gol terbaik sebelum babak pertama usai. Itu adalah Il Capitano dalam performa terbaiknya ketika ia mengalahkan dua bek Real untuk kemudian menendang bola rendah untuk mencetak gol kedua Juventus dan seluruh stadion bergemuruh. Sementara Los Galacticos mendapatkan kartu merah dan para pemainnya berselisih dengan siapa saja.
Babak kedua mulai dan Juventus masih berada di elemennya sendiri, sementara Real makin tenggelam dalam depresi. Ronaldo tidak dapat berbuat apa-apa dan Figo menendang salah satu penalti terburuk dan Buffon berhasil menyelamatkannya. Jantung saya makin berdebar-debar. Kemenangan atas tim yang terisi penuh oleh bintang-bintang sepakbola dunia ada di depan mata. Saya yakin Zidane berharap ia masih seorang Bianconero…
Montero dengan anehnya terus berada di lapangan walaupun mendapatkan banyak kartu kuning sambil melakukan ekspresi orang jahatnya. Kemudian datanglah operan itu, oh operan itu dari Zambrotta kepada Nedved yang menghajar bola tersebut untuk mencetak gol ketiga Juve. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu – mungkin saya terlalu senang hingga pingsan atau mungkin dipukul oleh seorang Madridista. Saya tidak masuk kuliah untuk beberapa hari kemudian karena takut euforia itu akan hilang. Tetapi saya ingat, dan ini membuat saya tersenyum, Lippi membuat pergantian pemain setelah gol Nedved agar kita lebih defensif (kita adalah orang Italia pada akhirnya) tetapi Juventus tetap mengontrol pertandingan. Saya cuma berharap Ferrara bermain di pertandingan itu.
Kemenangan dengan cara inilah, ketika tim bermain sebagai suatu unit, menghargai satu sama lain dan menggunakan grinta dan skill untuk meruntuhkan raksasa yang meyakini saya untuk menjadi Juventina sepanjang hidup.
Mengapa orang lain mendukung tim lain?
Sumber : http://www.thefootyblog.net/?p=2740
Follow Mina via Twitter @Minarzouki
Diterjemahkan Oleh : Reyhan M Lany.
Subscribe to:
Posts (Atom)